Kamis, 28 Februari 2013

"Mengapa Aku Mencintaimu"

"Mama, lihatlah!" seru Marta, seorang anak berumur tujuh tahun.

"Sudah, sudah!" seru sang ibu yang baru saja turun dari mobil, ketika tiba di rumah sepulang dari kantor.

Setelah selesai makan malam selesai, ibu itu duduk sebentar didepan tv, melakukan urusan ke kamar mandi, menelepon beberapa rekan kerja, lalu bersiap-siap.

Ketika hendak beranjak, ia melihat Marta masih sibuk dimeja belajar.

"Ayo, Marta, sudah malam!" Cepat pergi tidur!" serunya sambil mencium kening Marta.

"Mama, Marta hampir lupa ingin memberimu sesuatu!" seru Marta begitu ibunya mulai bergerak meninggalkannya.

"Marta, kamu bisa berikan itu besok pagi!"

"Tapi, besok pagi mama juga tidak punya waktu. Mama kan berangkatnya pagi-pagi sekali."

"Kita besok pagi masih bisa ketemu, Marta! Mama janji, deh!" Jawab sang ibu. "Selamat malam, Marta!" Imbuhnya sambil beranjak dan menutup pintu. Ia tak mendengar sahutan dari Marta. Tampaknya Marta kecewa.

Menjelang tengah malam, dengan mengendap-endap ibu itu kembali masuk ke kamar Marta. Ia ingin menjenguk anak semata wayangnya yang tertidur pulas. Di kamar itu, ia menemukan sobekan-sobekan kertas putih yang terburai di lantai. Ia mengumpulkan satu persatu kertas-kertas itu. Di satu sobekan, ia menemukan deretan kata : Mengapa aku mencintaimu, Mama ...

Merasa penasaran dengan temuannya, ia akhirnya berusaha menyatukan kembali potongan-potongan kertas itu menurut bentuk aslinya. Akhirnya, pada selembar kertas itu ia menemukan sebuah puisi tulisan Marta :

"Mengapa aku mencintaimu, Mama... Walau mama sibuk bekerja dan punya banyak hal untuk dilakukan setiap harinya, tapi mama masih punya waktu untuk bermain denganku. Aku mencintaimu, Mama, karena aku kau jadikan bagian terpenting di setiap harimu."

Ibu itu begitu tersentuh dengan puisi anaknya. Ia keluar dari kamar Marta. Sepuluh menit kemudian sudah tiba kembali di kamar itu. Ia membawa dua gelas susu coklat dan dua potong kue. Ia memegangi pipi Marta dan mencium dahinya dengan lembut.

"Ada apa, Mama?" tanya Marta yang langsung terjaga dari tidurnya.

"Ini untukmu!" Karena kamu bagian terpenting dari setiap hariku!"

Marta tersenyum, lalu bersama ibunya menikmati susu coklat dan kue.


sumber : Ign. elis Handoko, SCJ. Sentilan Rohani. Yogyakarta : Teranova Books. 2012

"Kekayaan Orang Miskin"

"Lalu orang kaya itu berseru, katanya : 'Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini". (Lukas 16 : 24)


Harta kekayaan tidak hanya sebatas uang dan harta benda. Kekayaan dapat berupa kemampuan, tenaga, bakat, waktu dan keterampilan kita. Keberadaan diri kita adalah kekayaan yang kita miliki. Beriman kepada Yesus tidaklah cukup dengan menghitung-hitung bakat dan kemampuan yang telah Tuhan berikan. Beriman kepada Yesus perlu diwujudkan dengan menunjukkan sikap belarasa kita kepada sesama.

Dari perumpamaan ini kita belajar bahwa ujung jari Lazarus yang penuh borok dapat menjadi sarana untuk meringankan penderitaan sesama, apalagi keadaan kita yang sehat, memiliki kemampuan, tenaga, pengetahuan, keterampilan dan bakat.

Kekayaan apa yang kita miliki saat ini? Sejauh mana kita menggunakan kekayaan kita untuk berbelarasa dengan sesama yang berkekurangan?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Selasa, 26 Februari 2013

"Membina Kepribadian yang Baik"

"Mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya." 
(Matius 23 : 3)

Dalam keluarga cukup banyak ayah atau ibu memberikan banyak nasihat moralitas kepada anaknya. Sayang sekali, pembinaan moralitas dalam keluarga tidak didukung oleh situasi lingkungan masyarakat.

Di media massa, anak melihat dan membaca banyak pemimpin berwaca indah tentang kejujuran, namun kemudian terjebak dalam kasus korupsi. Dimana-mana anak mendengar kotbah tentang Tuhan dan hukum-hukum agama, tetapi kekerasan masih sering terjadi terhadap sesama anak bangsa. Memang mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya.

Dewasa ini banyak anak Indonesia merindukan pemimpin keluarga dan pemimpin masyarakat yang memberi contoh perbuatan baik. Mereka muak dengan citra dan wacana. Bagi anak-anak, "verba docent, exempla trahunt", kata-kata hanya mengajarkan, tetapi contoh teladan memiliki daya pikat. Cinta kepada sesama, terlebih kaum miskikn, tidak bisa hanya dengan wacana tetapi harus dalam perbuatan nyata, "love is service in action".

Apa saja tugas-tugas yang Anda berikan kepada anak Anda dalam rangka pembinaan moralitas? Bagaimana cara terbaik mempersiapkan pemimpin masyarakat masa depan?

sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Senin, 25 Februari 2013

"Menjadi Manusiawi, Bukan Memiliki"

"Berilah maka kamu akan diberi." (Lukas 6 : 38)


Orang dinilai sebagai berhasil kalau memiliki jutaan dollar, walaupun dengan cara korupsi atau tidak membayar pajak secara benar dan seharusnya. Dalam diri manusia terdapat satu potensi lagi, yaitu keinginan untuk menjadi manusiawi. Untuk menjadi semakin manusiawi orang harus berani mengosongkan diri dan tidak terikat pada barang material. Perlulah disadari, kemewahan sama buruknya dengan kemiskinan. Maka untuk semakin menjadi manusiawi kita harus bersedia memberikan atau membantu orang lain.

Kita membantu orang lemah, miskin, kecil, tertindas dan cacat, tidak saja untuk meringankan penderitaan mereka, akan tetapi dengan perbuatan itu kita semakin manusiawi. "Manusia menjadi semakin bernilai karena kenyataan dirinya sendiri daripada karena apa yang dimilikinya. Begitu pula segala sesuatu yang diperbuat orang untuk memperoleh keadilan yang penuh persaudaraan yang lebih luas, tata cara yang lebih manusiawi dalm hubungan-hubungan sosial, lebih berharga daripada kemajuan-kemajuan dibidang teknologi." (GS, 35)

Manakah kebahagiaan yang lebih anda rasakan ketika membeli barang mewah atau ketika anda membantu orang kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel?

sumber ; Ret-ret Agung Umat 2013

Sabtu, 23 Februari 2013

"Menjadikan Musuh Sebagai Sahabat"

"Tetapi Aku berkata kepdamu : kasihanilah musuhmu dan berdoalah bgi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5 : 44)


Bagaimana Yesus menyikapi perbedaan? Tuhan Yesus adalah telada yang luar biasa. Ia mampu melihat perbedaan menjadi sesuatu yang tidak harus dibenci, dimusuhi tetapi dikasihi, diberkati serta didoakan.

Yesus tidak mau pengikut-pengikutNya terjebak dalam menyikapi perbedaan adat kebiasaan dan agama dengan bersikap menutup diri bahkan dijadikan musuh yang harus dilumat dan dibunuh. Yesus mengajak kita para muridNya untuk berbela rasa dan murah hati terhadap mereka yang berbeda dari kita, bahkan menjadi musuh kita. Saatnya kita untuk bekerjasama dan bersaudara dengan orang lain, meskipun orang lain tidak se-ide dengan kita sekalipun. Kalau kita hidup damai dan bahagia, berhentilah memandang orang lain yang berbeda adat kebiasaan dan agama sebagai musuh.

Mampukah aku melihat perbedaan menjadi sesuatu yang tidak harus dibenci, dimusuhi tetapi dikasihi dan didoakan? Atau aku bersikap sebaliknya, memusuhi, menyerang, menganiaya, mengintimidasi bahkan membunuh?

sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Jumat, 22 Februari 2013

"Kunci Surga"

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga." (Matius 16 : 19a)

Yesus adalah seorang guru, pemimpin dan penguasan Kerajaan Surga. Namun Dia bukanlah pemimpin dan penguasa yang mengagungkan jabatan, tetapi Dia seorang gembala yang rendah hati, yang bersedia merendahkab sampai serendah-rendahnya sejak kehadirannya secara nyata di dunia.

Dia adalah Bapa yang selalu menawarkan tanganNya untuk memeluk, menguatkan. Memberikan telingNya untuk mendengarkan dan hatiNya untuk mengerti dan memahami anak-anakNya, tanpa menghakimi tanpa menyalahkan. Kita semua tahu dan mengenal siapa itu Simon Petrus, murid Tuhan. Tapi, Tuhan jauh lebih tahu. Sehingga ia tidak ragu ketika menyerahkan dan mempercayakan kunci Kerjaan Surga, mempercayakan umatNya, domba-dombaNya untuk digembalakan olehnya.

Tahta ini juga mengartikan kepemimpinan dan kuasa menggembalakan dan melayani bukan mengagungkan jabatan atau kedudukan seorang pemimpin Gereja Katolik. Semangatnya adalah "Gembalakan kawanana domba Allah yang ada padamu, jangan dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri... hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu." (1 Petrus 5 : 2 - 3)

Pesta ini juga mengajak seluruh umat untuk setia dan taat kepada Kristus sebagai pemimpin agung dan kepada para pemimpin serta ajaran-ajaran gereja. Dengan demikian kita boleh berharap kelak kita akan diperkenankan untuk memasuki Kerajaan Surga.


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Kamis, 21 Februari 2013

"Kemurahan Hati Tuhan"

"Mintalah maka kamu akan diberi, carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7 : 7).


Di zaman sekarang ini kerapkali sulit mencari orang yang sungguh-sungguh bermurah hati dan tulus dalam kehidupan. Tak sedikit dari kita mungkin juga mau menolong tetapi kerapkali berfikir dua atau tiga kali demi keuntungan diri sendiri dan bukan dengan ketulusan.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita merenungkan dan menyadari bahwa dalam hidup ini juga harusnya dalam memberi, mengasihi dan menolong haruslah dengan ketulusan dan secara total, seperti yang digambarkan dalam bacaan hari ini.

Gambaran Bapa yang murah hati itu sangat jelas mengajak kita juga untuk bisa bersikap murah hati dalam hidup ini. Ketika kita berdoa sungguh pada Tuhan dan dikabulkan, ketika kita berserah pada Tuhan atas berbagai permasalahan kita dan beberapa hari kemudian permasalahan kita terjawab dan terselesaikan, maka disitulah letak kemurahan hati Allah yang menjawab berbagai macam doa, yang membantu menyelesaikan berbagai permasalahan hidup secara total dan penuh kemurahan hati serta kasih. Mari kita juga hari ini setidaknya dapat bermurah hati seperti Bapa murah hati, mari kita berani memberi dan mengulurkan tangan kita hari ini demi sesama kita yang membutuhkan.

Apakah kita lebih sering menghitung-hitung untung dan rugi dalam pelayanan kita, atau kita juga lebih sering memiliki motivasi-motivasi tertentu dalam pelayanan demi keuntungan diri sendiri?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Selasa, 19 Februari 2013

"Bagi Orang Beriman Mengampuni adalah Wajib"

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahamu." (Matius 6 : 14 - 15)

Hari ini Tuhan Yesus, yang menyelamatkan dengan mengampuni dosa-dosa kita, mengingatkan satu hal pokok dalam hidup kristiani, yaitu mau mengampuni. Pengampunan menjadi awal dan dasar hidup baru, relasi baru, kerajaan baru dan dunia baru didalam kasih Allah, yang selama ini hilang karena dosa.

Allah Bapa kita mengetahui bagaimana manusia hidup menderita karena dosa. Maka karena kasihNya Bapa berbela rasa dan merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan manusia. Apa itu? Mengampuni. Dan pengampunan itu terjadi dalam darah Putra TunggalNya.

Dengan demikian pengampunan tidak mungkin terjadi tanpa pengorbanan. Maka sebagai murid Yesus, tidak ada pilihan lain. Kita harus mengikuti ajaran dan teladanNya, yaitu mau mengampuni, yang berarti juga mau berkorban. Mengapa? Karena mengampuni itu tidak mudah, ada perasaan berat seakan-akan terpaksa. Maka orang mengatakan bahwa mengampuni itu harus tulus, ikhlas, berjiwa besar dan legowo.

Masa prapaskah ini adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat, untuk lebih dekat mengikuti Yesus dengan berbuat seperti Dia, yaitu peduli dan berbela rasa terhadap saudara-saudara yang membutuhkan maaf, pengampunan, perhatian dan bantuan.

Apakah saat ini masih ada orang yang belum saya maafkan, masih dongkol dan dendam dengannya? Nah sekarang saat yang tepat untuk meneladan Guru dan Penyelamat kita Yesus Kristus yaitu mengampuninya secara tulus.


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Senin, 18 Februari 2013

"Harta Bukan Jaminan Kesehatan Jiwa"

Apakah harta yang banyak dapat membuahkan senyum gembira atau tawa bahagia?

Jawabannnya pastilah "tidak". Apakah harta yang banyak dapat memberikan ketenangan dalam hati dan kedamaian dalam batin? Jawabannya juga pasti "tidak".

Dapatkah harta yang banyak memberikan jaminan ketenangan bagi masa depan dan kesejahteraan bagi hari esok? Jawabannya juga pasti "tidak".

Banyak orang yang memiliki harta, tetapi wajahnya selalu berkerut, hatinya resah dan khawatir menganai masa depan. Harta yang melimpah itu bersifat sementara, jika kita memilikinya, itu hanyalah titipan, janganlah kita menjadi sombong! Jika kita kehilangan, tidak ada yang kurang dari diri kita karena semua harta itu memang bukan milik kita. Semua itu adalah milik Sang Khalik yang mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.

Ketenangan hati dan jiwa kita bukan terletak pada harta. Hati dan jiwa kita tenang hanya ketika kita mampu menjaga relasi kita dengan Sang Khalik sebagai pemberi semua karunia serta kebersamaan kita dengan sesama. Relasi dengan Sang Khalik kita sebut ibadah, sedangkan relasi dengan sesama kita sebut persahabatan. Jalanilah semuanya dan nikmatilah keindahannya.


sumber : Imanuel Kristo. Momen Inspirasi 3. Yogyakarta : Penerbit ANDI. 2012

"Tiket Masuk Kerajaan Allah"

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25 : 40)

Sekarang ini, hampir semua jasa yang kita terima dalam masyarakat perkotaan ada harga yang dipatok. Tak heran bahwa untuk masuk dalam Kerajaan Tuhan Allah Mahamulia, kita juga harus memakai biaya. Kita mau mulia bersama Allah, ada biaya atau ada tiket yang harus dibayar. Tetapi soal besar kecilnya biaya ini, bukan kita yang menilai, tetapi Allah yang menilai.

Masuk dalam kerajaan Allah berarti hidup dalam penyertaan Allah yang menyelamatkan. Apa biaya atau tiket masuknya? Menurut Nabi Yesaya, tiket masuk Kerajaan Allah adalah pelayanan tanpa pamrih pembebasan orang yang mengalami ketidakadilan, pelayanan kasih pada yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan.

Di zaman sekarang, contoh orang yang mengalami ketidakadilan dan kekurangan kebutuhan dasar itu ada dalam diri banyak penyandang cacat yang kesulitan akses ekonomi termasuk kerja, buruh/pekerja yang upahnya dibawah kebutuhan minimum, orang miskin yang tak mampu membayar biaya kesehatan dan pendidikan, orang yang dipenjara dan napi yang disingkirkan masyarakat.

Jika tiket masuk Kerajaan Allah adalah aksi pelayanan tulus pembebasan orang tertindas dan pelayanan kasih pada yang miskin, apa tanggapan hatiku? Apa yang akan kulakukan untuk memiliki tiket masuk Kerajaan Surga?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Sabtu, 16 Februari 2013

"Tampilan Diri dan Karya Ilahi"

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Lukas 5 : 31)

Barangkali kita pernah menyaksikan, atau merasakan sendiri, penderitaan orang yang sedang sakit. Karena tubuh tidak berfungsi normal sebagaimana saat sehat, yang dapat diperbuat tubuh pun tak optimal.

Apabila kita mengalami sakit bukan secara jasmani melainkan rohani, seperti apakah pribadi yang kita tampilkan? Kita mungkin tampil sebagaimana disampaikan oleh Nabi Yesaya : mengenakan kuk pada sesama, menunjuk-nunjuk orang dengan jari, memfitnah, membiarkan orang yang tertindas dan semua ucapan yang kita katakan sebenarnya hanyalah omong kosong belaka. Tampilan diri kita semakin jauh dari citra Allah sendiri karena dikotori oleh dosa.

Dalam keadaan sakit rohani ini, sapaan kasih Allah dapat menjadi hal yang sangat menggembirakan. Kendati dalam keadaan berdosa, Allah tetap mengasihi kita dan mengajak untuk kembali kepadaNya. Lalu bagaimanakah sikap kita sendiri kepada orang yang kita anggap berdosa? Apakah kita sungguh mau menolongnya, ataukah justru membuatnya makin terpuruk saja?

Bagaimanakah tampilan diriku selama ini? Apakah aku memancarkan kasih dan kebaikan Allah melalui sikap dan tindakanku?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Jumat, 15 Februari 2013

"Puasa Sebagai Ekspresi Iman"

"Akan datang waktunya, ketika mempelai pria akan diambil dari mereka dan pada ketika itu mereka akan berpuasa." (Matius 9 : 15b)


Gereja Katolik menetapkan aturan berpuasa berupa makan kenyang sebanyak satu kali alam sehari. Selain itu ketetapan itu, bermacam cara dapat ditambahkan orang dalam berpuasa dan bermati raga. Ada yang memutuskan untuk tidak makan daging selama empat puluh hari. Ada yang secara ekstrem hanya menyantap nasi putih saja selama masa puasa, mengurangi banyak kenikmatan saat makan. Ada yang mengurangi jumlah uang makannya, lalu menyimpan kelebihannya untuk didermakan.

Bagaimanakah situasinya ketika masa puasa berakhir? Ada yang berusaha untuk mempertahankan kesederhanaan hidup, karena puasa memberikan semacam inspirasi bagi sikap dan tingkah laku. Namun, tidak sedikit juga yang kembali ke gaya hidup lamanya, yang cenderung konsumtif dan boros, serta abai pada kesulitan hidup sesama.

Puasa dan mati raga sejatinya menjadi ekspresi iman. Yang hendak diungkapkan adalah keprihatinan serta solidaritas atau bela rasa kepada sesama. Puasa dan mati raga bukanlah sekadar aturan agama, sebab adakah diantara kita yang bersungguh-sungguh dapat makan enak sementara orang lain masih kelaparan? Dapatkah kita betul-betul merasa nyaman selagi ,masih ada orang yang menderita?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Kamis, 14 Februari 2013

"Kasih Bersedia Mendengarkan"

Bila kita mengasihi orang lain, kita mendengarkan mereka. Tentu saja, membutuhkan waktu dan usaha untuk memberikan perhatian kepada mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Namun jika kita melakukannya, hal itu menunjukkan perhatian dan rasa hormat yang tulus.

Penulis Wayne Alderson bercerita tentang seorang pendeta muda yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan masalah-masalah dari para jemaatnya. Suatu hari ia pulang dan menyapa istrinya,

"Bagaimana kabarmu hari ini?"

Selama setengah jam istrinya bercerita tentang masalah mobilnya, sakit telinga yang diderita anaknya dan kesulitannya ketika memperbaiki peralatan rumah tangga. Lalu, pendeta itu membuat sederet hal yang perlu dilakukan istrinya untuk memecahkan masalah.

Namun, sang istri hanya menatapnya, lalu berkata,

"Aku sudah melakukan semua itu. Aku tak perlu menunggumu untuk mengatasi masalah. Aku hanya ingin kau mengetahui apa yang telah aku alami."

Allah yang mengasihi kita selalu bersedia mendengarkan kita. Bersedia mendengarkan adalah bagian dari sikap mengasihi.

Mendengarkan istri, suami, rekan kerja atau saudara seiman, mungkin merupakan hal yang mereka butuhkan supaya memperoleh semangat kembali atau dapat melihat masalah dengan lebih jelas. Mari  belajar mendengarkan. Allah sendiri menunjukkan bahwa kasih itu bersedia mendengarkan. Mendengarkan mungkin adalah bentuk kasih terbaik yang dapat anda lakukan hari ini.


sumber : Santapan Rohani Edisi Tahunan VIII

"Pelayanan, Pengorbanan & Kegembiraan"

"Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku." (Lukas 9 : 23)


Seperti anak-anak dan remaja pada umurnya, Rick sangat menyukai olahraga. Meskipun ia adalah seorang penyandang disabilitas. Ia mengikuti berita tentang olahraga dan sangat ingin terlibat didalamnya. 
Disinilah kebesaran cinta sang ayah sungguh diuji. Suatu saat dimusim semi tahun 1977, Rick mengatakan ingin ikut dalam lomba lari 5 mil yang ada di kota mereka. Ayahnya menyetujui. Tentu saja Rick tidak mampu berlari sendiri. Orang tuanya membuatkan kursi roda khusus yang bisa didorong sambil berlari. Ayahnyalah yang berlari sambil mendorong kursi roda anaknya.

Berbagai lomba telah mereka ikuti. Puncaknya adalah ketika mereka terlibat dalam lomba iron-man. Sang anak terus berusaha memberi semangat pada ayahnya dengan merentangkan tangan dan menunjukkan raut muka gembira. Mereka tidak mungkin berlomba secara terpisah. Sang Ayah adalah tubuh dan anaknya adalah hati yang membakar semangat untuk terus berlari.
Suatu saat Rick pernah ditanya, "Jika bisa memberi sesuatu pada ayahmu, apakah yang ingin kamu berikan?" Rick menjawab, "Kalau mungkin, suatu saat ayah duduk di kursi ini dan aku yang mendorongnya."

Dalam pesan pertama tentang penderitaan Injil Lukas 9 : 22 - 25 Yesus mengatakan bahwa siapa yang mau mengikuti Aku, dia harus siap menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari. Siapa yang setia mengikuti Yesus dengan memanggul salibnya, Yesus tidak akan ragu menyatukan kita dalam keabadianNya.

Teladan dari sang ayah dalam kisah Rick adalah sebuah kisah perjuangan yang nyata, bagaimana hidup menemukan kedalaman dalam pengorbanan. Dia mau melayani, berkorban dan menemukan kegembiraan yang dalam. Bagaimana dengan kita?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Rabu, 13 Februari 2013

"Jangan Hidup dalam Kepalsuan ... Lelah ...!"

Ada seorang buruk rupa dan sekaligus buruk perangainya. Dia seorang penjahat. Suatu ketika dia bertemu gadis cantik. Pemuda itu jatuh hati dan menyatakan cintanya padanya. Tetapi tentu saja sang gadis menolaknya. Namun ia masih memberi sedikit harapan kepada pemuda itu degan mengatakan, 

"Saya akan menerimamu asal bisa kau ubah wajah dan kelakuan burukmu itu."

Suatu kesempatan dalam sbuah pesta, pemuda sudah berubah wajahnya bertemu dengan gadis tadi. Ia menyatakan cintanya dan sang gadis menerima karena juga tidak menyadari bahwa yang dihadapi adalah pemuda buruk rupa yang tersamar topeng diwajahnya. Maka jadilah mereka pasangan yang serasi. Setelah menikah pun pemuda itu berubah menjadi pribadi yang sempurna, setia dan begitu mencintai istrinya.

Suatu hari, pasangan tadi bertemu seseorang yang pada masa lalu merupakan rekan si pemuda. Karena tahu dan mengenal, maka lelaki itu menarik topeng yang dikenakan dihadapan sang istri. Apa yang terjadi? Begitu topeng itu dirobek, wajah asli yang semula amat buruk telah berubah persis seperti topeng yang dikenakannya. Tetap tampan.

Pertobatan dan perubahan batin yang sedemikian rupa akan membantu mengubah fisik ke arah tata laku yang lebih baik. Bertobat bukan hanya karena mau menghindarkan diri dari, tetapi lebih karena bertobat untuk meraih suatu nilai. Meraih sesuatu yang lebih bermakna.

Rabu abu adalah kesempatan kita untuk menarik diri dan melihat diri. Kita semua tak ada yang sempurna. Semua dari kita kotor. Perlu dibersihkan. Maka Yesus mengajak pendengar sabdaNya, muridNya untuk membersihkan diri dari kekotoran.

Dua cara yang bisa kita lakukan adalah bermati raga dalam pantang, puasa dan beramal kasih. Perjuangan yang sedemikian kuat penuh pengorbanan diri untuk mengubah sesuatu ternyata juga berdampak dalam keseluruhan hidup kita. Seperti seorang pemuda buruk rupa dan sekaligus buruk perangainya dalam cerita diatas tadi. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan.

sumber : Retret Agung Umat 2013 Keuskupan Agung Jakarta

Senin, 11 Februari 2013

" 3 Macam Hari"

Dalam rangkaian hari yang kita jalani, ada 3 macam hari dalam seluruh hari-hari kita. Pertama, hari kemarin. Itulah masa lalu yang tidak mungkin kita sentuh lagi, semuanya telah kita jalani dan tidak mungkin kita ubah lagi. Kedua, hari depan yang dapat kita rancang, tetapi tidak sepenuhnya dapat kita ketahui. Ada banyak hal yang masih tersembunyi bagi kita untuk dapat kita sikapi dengan tepat. Ketiga, hari ini. Hari yang sedang kita jalani.

Tenggelam dalam hari kemarin hanya akan membuat kita melupakan hari ini dan hari depan, sementara terus-menerus memikirkan masa depan hanya membuat kita lupa bahwa kita sedang menjalani hari ini.

Oleh karena itu, jalanilah hari ini dengan sungguh-sungguh. Berikan hal terbaik yang dapat kita berikan. Ukirlah prestasi sebaik kita mampu melakukannya. Cintailah sesama sebaik kita ingin dicintai. Hanya dengan cara itu kita dapat membayar hari kemarin dan mempersiapkan hari depan yang lebih baik.


sumber : Imanuel Kristo. Momen Inspirasi 3. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012

Sabtu, 09 Februari 2013

"Hanya Sebatas Mimpi"

Seorang anak muda desa berangkat menuju kota dengan membawa impian menjadi pegawai pemerintah dengan kedudukan dan jabatan terhormat. Ia mempersiapkan segala sesuatu menuju kota dengan sebuah keyakinan akan keberhasilan. Jauhnya perjalanan membuat ia lelah sehingga ia beristirahat di sebuah kedai kecil dibawah pohon rindang di tepi jalan. Ia memesan semangkuk bubur. Sementara menunggu, tanpa terasa ia tertidur dengan kepala tertelungkup di meja.

Saat itulah ia bermimpi duduk disebuah kursi, dalam sebuah ruang kerja yang sejuk karena pendingin udara. Saat itu pintu ruangannya diketuk seseorang dan ia mempersilahkan seorang tersebut masuk. Ternyata yang masuk adalah seorang karyawan kantor. Dengan rasa hormat, karyawan tersebut membungkuk dan menyodorkan sebuah map berisi dokumen dan surat-surat penting yang harus ia tandatangani.

Anak muda tersebut memeriksa lembar demi lembar dokumen itu kemudian memberikan otorisasinya. Setelah semuanya selesai, sang pegawai kembali membungkuk dan memberi hormat. Tidak lama kemudian seorang wanita muda nasuk keruangannya mengingatkan akan beberapa jadwal yang harus ia lakukan sepanjang hari ini.

Belum sempat memberikan komentar, ia merasa seseorang menegur, menepuk dan mengguncang pundaknya dengan cukup keras sambil berkata, 

"Bangun Mas, buburnya dimakan sebelum dingin".

Ia pun terbangun dengan kesal karena sedang menikmati mimpi indahnya.

Banyak orang merasa cukup jika dapat menikmati mimpinya, sekalipun apa yang ia harapkan belum dapat diraih. Menikmati mimpi memang menyenangkan, tetapi tenggelam dalam mimpi adalah sebuah kesalahan serta mengabaikan realita adalah pengulangan kesalahan. Bangunlah dan terjagalah. Melakukan kesalahan saat terjaga lebih bermakna daripada merasa benar dalam sebuah mimpi.


sumber : Imanuel Kristo. Momen Inspirasi 3. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012

Rabu, 06 Februari 2013

"Usia Harapan"

Andika mengayuh sepedanya pelan. Hatinya masygul. Andrea duduk di belakang sadel sepedanya.

Paras jelita Andrea juga tertutup awan kesedihan. Sesekali kaki Andrea ikut mengayuh pedal sepeda saat jalanan naik.

"Apakah Andrea boleh pergi ke sekolah bersama Andika?" pinta ibunya kepada mama.

Dari mamanya Andika terdengar kisah sahabar barunya.

"Kaki Andrea terjangkit kanker tulang ganas."

Seminggu lalu Andrea tanpa sengaja mendengar pembicaraan ibunya Andrea dengan mama.

"Dokter mendeteksi kanker ganas lain pada tubuh Andrea."

Saat jalanan menanjak, Andrea bertanya,

"Berapakah usia sebuah harapan?"

Andika turun dari sepedanya dan menuntunnya. Ia meminta Andrea tetap duduk di boncengan belakang.

"Lilin hidupku tinggal menyisakan nyala penghabisan," sambung Andrea.

Andika mengingat saat pertama ia memboncengkan Andrea. Mereka mengenakan seragam putih-merah. Sekarang mereka berpakaian putih dan abu-abu.

Rambut panjang Andrea menutupi wajahnya yang tertunduk. Terdengar isakan panjang. Sepeda berjalan makin pelan.

Andika menyeka air mata Andrea dengan sapu tangan.

"Dimana ada harapan, disitu ada kehidupan."

Ketika lilin pengharapan masih ada, lilin yang lain pun bisa dihidupkan.


sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Selasa, 05 Februari 2013

"Mencari Pasangan yang Sempurna"

Ketika menyampaikan salah satu materi pada kursus persiapan perkawinan, seorang katekis memberikan cerita selingan berikut ini:

"Suatu ketika ada seorang gadis cantik yang bertekad hanya akan menikah jika ia menemukan seorang lelaki yang sempurna hidupnya, tampan, kaya, berpendidikan dan baik hati. Ia mencari dambaan hatinya itu kesana kemari selama beberapa tahun. Satu ketika, ia bertemu dengan seorang lelaki sempurna dambaannya."

"Akan tetapi, lelaki itu pun memiliki pikiran yang serupa dengan si gadis, ia hanya akan menikahi seorang gadis yang sempurna. Sayang sekali, gadis yang ditemuinya itu tidak masuk dalam perhitungannya. Akhirnya, kedua orang itu tetap hidup seorang diri sepanjang hidupnya."

Salah seorang peserta menanggapi cerita itu :

"Saya rasa, hanya orang yang tidak sempurnalah yang bisa melengkapi segala kekurangan yang ada pada kita."


sumber : Ign. Elis Handoko, SCJ. Sentilan Rohani. Yogyakarta : Teranova Books. 2012

Senin, 04 Februari 2013

"Mengendalikan Amarah"

Saya tidak tahu sejauh mana Anda dapat mengendalikan amarah dan rela mengalah dalam sutau perdebatan atau perselisihan.Jika ada password dalam kehidupan manusia saat ini, passwordnya adalah "mengotot". Rasanya makin hari makin banyak orang yang mengotot walaupun ia jelas salah.

Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia marah atas ketidakbecusan salah satu pemimpin di negeri kita Indonesia, banyak orang marah dan memaksanya turun. Namun, banyak orang menghadapi orang yang mengotot dengan ikut-ikutan mengotot, marah, menghardik atau memaki dengan kasar. Saya rasa sudah waktunya kita mengubah passwaord kita, dari "mengotot" menjadi "mengalah". Untuk apa kita ikut mengotot? Kita boleh tidak setuju dengan sesuatu, tetapi tidak perlu mengotot.

Saat mengotot, akal sehat kita tidak berjalan dengan semestinya dan kebodohan kita akan terlihat. Tetap tenang dan hadapilah semua permasalahan dengan dewasa.

Ada nasihat cerdas dari salah seorang Presiden Amerika, Thomas Jefferson, "When angry, count ten before you speak, if very angry, one hundred, if very very angry, one thounsand." (Ketika Anda marah, hitunglah sampai sepuluh, sebelum Anda berbicara. Jika Anda sangat marah, hitunglah sampai seratus dan jika Anda sangat marah sekali, hitunglah sampai seribu). Tanda kedewasaan adalah kesabaran dan penguasaan diri alam segala hal. Marilah kita berlatih menghitung saat kita mulai marah. Kita boleh tidak setuju, tetapi jangan mengotot, apalagi marah.


sumber : Andreas Nawawi. Momen Inspirasi. Yogyakarta : Penerbit ANDI. 2012

Minggu, 03 Februari 2013

"Doa yang Meleset, Tapi..."

Aku meminta diberi kekuatan agar bisa meraih mimpi-mimpiku. Tapi, kenyataannya aku masih merasa lemah, dengan begitu aku bisa belajar taat dengan rendah hati.

Aku meminta kesehatan agar bisa melakukan hal-hal besar. Tapi, kenyataannya aku menyadari bahwa tubuhku ringkih, dengannyalah aku terdorong untuk menjadikan sesuatu semakin lebih baik.

Aku meminta kekayaan agar bisa hidup bahagia. Tapi, aku dibuatNya tetap miskin, supaya aku lebih berkembang dalam kebijaksaan.

Aku meminta kekuasaan agar memiliki kuasa atas orang-orang. Tapi, Dia memberiku kelemahan, dengan begitu aku merasa masih membutuhkan Allahku.

Aku meminta sesuatu yang bisa membuatku mampu menikmati hidup. Tapi, Dia memberiku hidup agar aku bisa menikmati sesuatu.

Aku tak memiliki sesuatu pun dari apa yang pernah aku minta, tapi aku mempunyai sesuatu yang aku harapkan dari semula.Walaupun hanya diriku sendiri, doaku tetaplah hening dan melegakan batin.

Dalam semua hal itu, aku merasakan bahwa diriku masihlah selalu Dia berkati.


sumber : Ign. Elis Handoko, SCJ. Sentilan Rohani. Yogyakarta : Teranova Books. 2012

Sabtu, 02 Februari 2013

"Iri Hati"

Tidak ada satu alasan pun yang mengizinkan kita iri hari kepada orang lain karena hasilnya hanyalah kekacauan dan segala macam perbuatan jahat yang akan kita dapatkan. Ada sebuah kisah menarik mengenai iri hari. Kisah ini berasal dari legenda rakyat Yunani.

Satu kali ada seorang pria yang tanpa alasan jelas menyimpan iri hati kepada sebuah patung. Patung yang diletakkan di pusat kota itu adalah patung seorang pahlawan olahraga, bertubuh atletis, tinggi, tampan dan berwibawa. (Mungkin hal-hal inilah yang menimbulkan kebencian dan iri hati pria tersebut).

Setiap saat, ia berusaha menghancurkan patung itu. Namun karena patung itu terbuat dari logam yang kuat dan kukuh, tentu pria tersebut tidak dapat menghancurkannya dengan mudah. Bagi kita, mungkin cerita ini terdengar sangat konyol, tetapi nyatanya memang demikian! Pria tersebut berulang kali berusaha menghancurkan patung itu. Ia telah melakukan dengan berbagai cara, bahkan membongkar fondasi patung. Sampai suatu waktu, usahanya berhasil. Patung itu pun akhirnya roboh. Namun sayang, ketika roboh, patung itu menimpanya dan akhirnya pria tersebut pun mati.

Apakah anda masih mengingat peribahasa yang mengatakan, "Barangsiapa menggali lubang, ia sendiri akan terperosok kedalamnya?"

Hari-hari ini banyak orang cenderung melakukan persaingan yang tidak sehat, saling menjatuhkan dan mengkhianati untuk mencapai keberhasilan. Namun, tidak seharusnya kita melakukan hal-hal tersebut. Buanglah sifat mementingkan diri sendiri, belajarlah hidup bersama dan bangunlah hubungan baik dengan orang lain. Tertawalah bersama mereka yang tertawa dan menangislah bersama mereka yang menangis.


sumber : Andreas Nawawi. Momen Inspirasi. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012

Jumat, 01 Februari 2013

"Dusta"

Kita terbiasa mendengar dusta. Bahkan sebuah kelompok masyarakat menganggap dusta sebagai bagian kehidupan. Sepertinya hidup tidak menarik lagi tanpa dibumbui dusta.

Padahal dusta tetap dusta, bohong tetap bohong. Dosa "hitam" atau "putih" tetap saja dusta. Dusta adalah dosa. tuhan membenci orang yang berdusta. Menurut "Psychology Today", dari 2.153  mahasiswa dan mahasiswi yang dimintai pendapat mengenai dusta, ditemukan bahwa 70% dari mereka mengaku sering berbohong pada waktu SMU.

Dari penelitan yang dilakukan oleh Harian USA Today ditemukan bahwa 91% orang Amerika berbohong kepada orangtua mereka, 75% selalu berbohong kepada teman mereka, 69% selalu berbohong kepada pasangan hidup mereka, 43% berbohong mengenai pendapatannya. Bagaimana dengan Anda?

Tidak menghenrakna napabila banyak diantara kita terjangkit "krisis kepercayaan" hingga sangat sulit memercayai seseorang. Hal inilah yang membuat "pertahanan diri" banyak orang menjadi lemah dan rapuh, mereka mudah putus asa atau kehilangan harapan  karena selalu merasa "sendirian" dalam menghadapi masalah.

Ironisnya, tidak sedikit orang yang mendustai diri sendiri. Mereka selalu berkata baik tentang diri sendiri sekalipun mereka tahu hal itu tidak benar, mereka tahu diri mereka bermasalah, tetapi mereka mengabaikan untuk berubah.

Berhentilah berdusta dan mulailah berkata benar. Dengan demikian, hidup Anda akan menjadi lebih baik.

sumber : Andreas Nawawi. Momen Inspirasi. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012