Minggu, 23 September 2012

Happy Birthday Romo Aji...


Selasa, 11 September 2012, suasana Pastoran Gereja St. Arnodus yang biasanya sepi berubah ramai, ketika Romo-romo SVD dari dekenat Bekasi dan Jakarta satu persatu berdatangan untuk merayakan hari ulang tahun Romo Aji, SVD yang ke 48 tahun.
Ada yang belum kenal kah dengan Romo kita yang satu ini? Yuk kita kenalan. Nama lengkapnya adalah Romo Stefanus Setyo Kumoro Aji, SVD, biasa dipanggil Romo Aji atau Pater Stefano (waktu beliau ditugaskan di Brasil). Beliau lahir di Jakarta, 11 September 1964. Kaul pertama, 18 Juli 1987. Kaul Kekal 18 Juli 1992. Tahbisan Diakon, 17 Februari 1993. Tahbisan Imamat, 15 Agustus 1993 oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ.
Berikut pengalaman pastoral Romo Aji, SVD :
-          1990 s/d 1991 sebagai frater berpastoral di Paroki Meliau, Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat.
-          1994 s/d 1998 menjadi pastor rekan di Paroki “Santa Maria de Fatima” Matto Grosso, provinsi Brasil Selatan. Pada masa itu Romo Aji, SVD pernah bekerja di dua paroki di kota/keuskupan lain, masing-masing selama 3 bulan untuk menggantikan kekosongan pastor paroki yang sedang berlibur ke negaranya.
-          1999 s/d 2001 menjadi formator di provinsi Brasil Selatan.
-          2002 s/d 2004 akhir menjadi formator di provinsi Brasil Central (Sao Paulo). Selama menjadi formator di provinsi Brasil Central, mengambil studi Misiologi gelar MA (Master of Art) di Pontificia Faculdade De Teologia Nossa Senhora Da Assuncao, dikota Sao Paulo, Brasil.
-          2005 s/d 2011 menjadi formator di Seminari Tinggi SVD, Malang, Jawa Timur.
Pada hari ulang tahunnya yang ke 48, beliau bercerita pada 11 September 2001 beliau merayakan ulang tahun ditengah keprihatinan. Dimana saat itu terjadi tragedi serangan bom ke menara kembar WTC di Amerika, saat itu beliau sedang bertugas di Brasil, salah satu negara bagian Amerika Latin. Namun dihari ulang tahunnya yang ke 48 ini, Romo Aji, SVD merasa gembira karena beliau sekarang bisa bertugas di paroki dimana dulu tempat beliau di tahbiskan yaitu di paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi ini.
Banyak doa dan ucapan yang disampaikan oleh Romo-romo rekan, Dewan Paroki dan seluruh umat untuk Romo Aji, SVD baik secara langsung maupun lewat jejaring sosial seperti facebook. Sampai Romo Agus, SVD yang kini tengah studi di Manila pun mengucapkan selamat dan doanya untuk Romo Aji, SVD.
Selamat ulang tahun Romo Aji, SVD, semoga Tuhan Yesus Kristus selalu memberkati dan menyertai Romo dalam tugas dan karya pelayanan Romo. Tetap setia dalam panggilan imamatNya dan tiada lelah dalam membimbing domba-dombaNya agar tidak ada domba yang tersesat.

Jumat, 21 September 2012

"Belas Kasihan"

"Yang kuhendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Deni dan Ari adalah teman yang sangat dekat. Mereka berdua berkenalan ketika masuk SMP. Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Deni dikenal sebagai anak yang pendiam di sekolahnya. Teman-teman yang lain menganggap dia aneh karena sifatnya yang pendiam dan menyendiri. Mereka juga menjauhi dia. Sedangkan Ari adalah anak yang sangat periang dan memiliki banyak teman. Banyak teman mereka yang bingung dan bertanya-tanya,

"Mengapa Ari mau berteman dengan Deni yang aneh itu?.

Tetapi Ari menjawab mereka semua bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan oranng dan orang seperti Deni lah yang harus kita kasihi dan dekati.

Diadalm kehidupanNya, Yesus lebih banyak berteman dengan orang-orang yang terkucilkan. Ia bahkan menjadikan Matius sang pemungut cukai menjadi muridNya yang oleh orang Yahudi dan kaum Farisi dianggap bahwa para pemungut cukai merupakan teman dari penjajah dan memeras uang dari orang Yahudi. Tetapi Yesus malah merangkul mereka dan mau makan bersama-sama mereka. Yesus menjawab cemoohan orang-orang bahwa Ia datang untuk orang berdosa bukan orang yang benar.

Siapakah yang akan kita ikuti, Ari yang menjadi teman Deni yang dijauhi oleh teman-temannya atau seperti teman-teman yang lain yang menjauhi Deni?

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Iman BKSN 2012. Komisi KKS dan Komisi Kateketik KAJ

Kamis, 20 September 2012

"Mengampuni"

"Sebab itu Aku berkata kepadamu : dosanya yang banyak telah diampuni, sebab ia telah berbuat kasih. Tetapi orang sedikit mengampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Suatu hari Rina sedang bermain dengan teman-temannya didalam kelas saat istirahat. Didalam kelas pun ada Mirna yang sedang makan dari bekal mamanya. Karena Rina dan teman-temannya asik bercanda dan bermain tanpa sadar ia menyenggol bekal makanan Mirna sehingga makanannya pun tumpah ke lantai. Mirna tampak murung melihat makanannya tumpah ke lantai karena hanya itu makanan yang ia punya. Rina yang sadar akan hal yang ia lakukan pun tersontak kaget dan merasa takut Mirna marah kepadanya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan karena makanan Mirna tumpah semua ke lantai. Rina pun meminta maaf kepada Mirna karena tindakannya yang tidak sengaja. Tetapi Mirna kemudian kembali tersenyum dan berkata bahwa ia memaafkan Rina dan teman-temannya itu.

Apakah kita dapat meniru sikap Mirna yang mau memaafkan teman kita yang telah berbuat salah kepada kita? Sama seperti Tuhan Yesus yang mau memaafkan dosa-dosa kita.

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Iman 2012. Komisi KKS dan Komisi Kateketik KAJ

Selasa, 18 September 2012

"Kebersamaan"

"Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota."

Anto adalah salah satu pegawai yang cukup sibuk yang bekerja di perusahaan swasta terkemuka, sehingga seringkali ia pulang kerja hingga larut malam. Suatu ketika Anto pulang kerja, ternyata Budi (anaknya) membukakan pintu untuknya, dan sepertinya Budi memang sengaja menunggu ayahnya tiba di rumah, Budi bertanya,

"Berapa sih gaji ayah?"

"Lho kok kamu nanya gaji ayah sih?"

"Nggak, Budi cuma mau tahu aja ayah..." timpal Budi

Ayahnya pun menjawab,

"Kamu hitung sendiri, setiap hari ayah berkerja 10 jam dan dibayar Rp. 400.000."

Kemudian Budi menjawabnya,

"Kalo 1 hari ayah dibayar Rp. 400.000 untuk 10 jam, berarti 1 jam ayah digaji Rp. 40.000 dong?"

"Pinter anak ayah, sekarang kamu cuci kaki dan tidur ya." Jawab ayahnya.

Tetapi, Budi tidak juga beranjak. Sambil memperhatikan ayahnya ganti pakaian, Budi kembali bertanya,

"Ayah, boleh pinjam uang Rp. 5.000 nggak?"

"Sudah, buat apa malam-malam begini?" Jawab ayahnya.

Anak kecil itupun langsung berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Anto melihat ternyata Budi sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000 di tangannya. Budi berkata kepadanya,

"Aku mau mengajak ayah main ular tangga. Cuma 30 menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ternyata cuma ada Rp. 15.000 tapi, karena ayah bilang ayah tiap 1 jam ayah digaji Rp. 40.000, jadi setengah jamnya ayah digaji Rp. 20.000. Uang tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam uang ayah Rp. 5.000." Jawab Budi dengan polos.

Sering kali kita kurang punya waktu untuk berkumpul karena sibuk dengan urusan sendiri, hingga kadang-kadang kita lupa terhadap sesuatu hal, atau orang-orang yang membutuhkan keberadaaan kita ditengah-tengah mereka.



sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Kitab Suci 2012. Komisi Kerasulan Kitab Suci & Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta.

Senin, 17 September 2012

"Kepercayaan"

Suatu ketika seorang gadis bersama dengan ayahnya melintasi jembatan tua yang tidak terawat baik. Jembatan itu penuh dengan lubang menganga dan talinya pun terlihat ada yang putus. Pertanda kalau kurang diperhatikan oleh empunya. Tampak suasana takut dan cemas di raut muka sang ayah dan gadis kecil ketika hendak menyeberanginya. Sambil berbicara pelan kepada putri yang ia cintainya.

"Sayang, tolong pegang tangan ayah kuat-kuat agar kamu tidak jatuh ke dalam sungai."

Mendengar permintaan ayahnya, si gadis kecil berkata sedikit keras,

"Tidak ayah! Ayah yang harus pegang tanganku."

"Apa bedanya?" tanya laki-laki itu sedikit bingung.

"Ada perbedaan besar, yah," balas si gadis kecil.

"Jika aku memegang tangan ayah dan sesuatu terjadi padaku, kemungkinan aku akan membiarkan tangan ayah lepas dariku. Tetapi jika ayah memegang tanganku, aku yakin apapun yang terjadi, ayah tidak akan pernah membiarkan tangaku terlepas," jelasnya.

Gadis kecil ini menyandarkan keselamatan jiwanya kepada ayahnya. Ia yakin dan percaya betul bahwa ayahnya akan menyelamatkannya walaupun rintangan berat menghadang.

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Kitab Suci 2012. Komisi Kerasulan Kitab Suci & Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta.

Sabtu, 15 September 2012

"Cari Nama"

Donita membenamkan wajah ke bantal.

"Orang lain dapat nama, padahal Donita yang bekerja keras di acara sekolah," ujarnya dongkol.

Seekor katak menjalani lebih dari separuh usia hidupnya di sebuah kolam kecil. Terbersit hasrat melihat keindahan dunia. Setelah perjalanan jauh, langkahnya terhenti di tepi danau.

Donita membalikkan badannya.

Ia melihat dua ekor burung bangau yang sedang istirahat di tepi danau.

"Apakah kalian dapat membantuku menyeberangi danau ini?"

"Kami dengan senang hati membantu. Tetapi bagaimana caranya?"

"Aha. Kalian memegang ujung dahan dengan mulut. Aku akan berpegangan dengan mulutku ditengah-tengah dahan untuk keseimbangan."

Kedua burung bangau itu terbang membawa katak melintasi danau.

Mata Donita berbinar-binar.

Seorang nelayan mencari ikan bersama rekannya berkomentar,

"Betapa cerdas kedua burung bangau itu."

Telinga katak seketika menjadi panas. Ia menyahut percakapan nelayan.

"Aku pencetus idenya. Aku yang mestinya dapat nama." Mulut katak terbuka. Tubuhnya terjerembab jatuh ke danau.

Untuk hal-hal tertentu, lebih baik kita tidak mendapat nama. Ketenaran itu menyenangkan, namun dapat menjadi dosa dalam arti harfiah dan kiasan dan dapat menjadi bumerang. Sebagian ketenaran kita mungkin lebih baik lepas tangan, kecuali kita kesulitan mengelakkannya.

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Kamis, 13 September 2012

"Warung Kebaikan"

Anton memilih tempat duduk di sudut warung. Seorang pengunjung restoran lain duduk di sudut lain dekat pintu masuk warung. Seorang laki-laki lansia menyandarkan sepeda kerbaunya di dekat pintu masuk warung makan. Ia mengenakan pakaian batik dan celana panjangnya digulung setinggi lutut.

"Bapak mau makan apa?"

Laki-laki lansia itu terdiam agak lama. Pelayan warung menyalakan kipas angin sambil menunggu jawabannya.

"Bapak mau minum apa?"

"Menu apa yang harganya dibawah Rp. 5.000,-?"

"Sediakan satu gelas besar es jeruk untuk Bapak," pinta pemilik warung yang mengenakan jilbab putih kepada anak lelakinya yang membantunya di dapur. Anton mengerling sebentar ke daftar menu. Anton melihat telunjuk pemilik warung berdiri di depan mulut. Ia memberi pesan kepada anaknya,

"Jangan bilang uangnya kurang untuk santap disini."

Laki-laki itu menikmati setiap sendok makanan dengan giginya yang tinggal separuh jumlahnya.

"Berapa?"

Laki-laki itu menyetrika lembaran-lembaran uang ribuan dengan tangannya.

"Orang baik sudah membayarnya," ujar pemilik warung.

Lansia itu sejenak terbengong-bengong.

"Orang yang duduk di pojok warung makan membayar taguhan Bapak," kata pemilik warung lebih lanjut.

Ketika hati memberikan kemurahan, tidak ada lagi arti mahal untuk sebuah kebaikan. Namun jarang kebaikan yang diberikan sengaja tanpa ingin tampak sebagai suatu kebaikan.

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Selasa, 11 September 2012

"Lampu Merah dari Allah"

Pengemudi yang mengabaikan tanda-tanda lalu lintas sama seperti "mengundang terjadinya kecelakaan." Siapapun yang melanggar lampu merah atau berhenti tanpa sengaja ketika lampu sudah hijau, dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Walaupun lampu merah dapat menghambat laju kendaraan anda, terutama bila sedang terburu-buru untuk segera sampai di tempat tujuan, sebuah kecelakaan bahkan dapat menyebabkan penderitaan yang lebih parah.

Beberapa tahun yang lalu, saya sangat gembira ketika akhirnya lampu lalu lintas dipasang di suatu persimpangan jalan yang membuat saya frustasi. Lampu itu membuat jalanan yang kacau setiap harinya menjadi rapi dan jalanan yang padat menjadi mudah dilalui. Kitab Suci juga memiliki sejumlah "lampu merah" yang seharusnya mengendalikan hidup kita sebagai orang Kristiani. Lampu merah itu berupa larangan untuk iri hati, sombong, benci, tidak sopan, mementingkan hawa nafsu dan egois. Ketika Roh Kudus memperingatkan kita supaya waspada terhadap hal-hal tersebut, kita seharusnya segera menginjak rem.

Lampu merah dan lampu hijau dari Allah dirancang untuk menolong kita. Seharusnya kita sama takutnya saat mengabaikan perintah Kitab Suci seperti ketika kita melanggar lampu lalu lintas. Ajaran-ajaran Kitab Suci bertujuan untuk memberikan perlindungan, perbaikan dan panduan.

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII

Senin, 10 September 2012

"Bukan Jalan yang Mudah"

Saya memiliki seorang teman yang sedang berusaha mengambil keputusan di tengah segala keraguan yang dialaminya. Meski ia masih percaya bahwa Tuhan itu baik, tetapi sebagian besar pengalamannya terlihat berlawanan dengan apa yang dipercayainya. Ia mempertanyakan nilai kebajikan karena ia melihat orang yang jahat tidak dihukum. Meski mengetahui bahwa seharusnya ia menikmati ketika berjalan bersama Allah, tetapi sekarang hal itu menjadi lebih seperti kewajiban daripada sukacita.

Saya juga punya kenalan yang mencoba bersandar kepada Allah dengan satu tangannya, sedang tangan yang lain menggenggam dosa. Akhir-akhir ini saya mendengar bahwa pernikahannya yang keempat berakhir dalam waktu kurang dari sepekan. Setelah mengeluarkan biaya ribuan dolar untuk pernikahan, ia akan mengeluarkan ribuan dolar lagi untuk perceraiannya.

Bila ada orang yang bertanya tentang arti berjalan bersama Allah, saya akan menjawab : " Mengatakan tidak" terhadap pilihan-pilihan yang mementingkan diri sendiri dan "Mengatakan iya" terhadap perintah-perintah Allah memang tidak mudah, tetapi itulah satu-satunya jalan untuk mengalami sukacita kekal dan sejati. Tentu saja hal itu tidak menjamin kita bebas dari permasalah hidup, tetapi memberikan kepastian bahwa kita dapat mengalami kedamaian meski dalam saat-saat yang sulit. Kita dapat bersukacita karena berkat Allah akan menjadi milik kita walaupun jalannya tidak mudah.

Sekalipun jalannya susah dan suram dan ujungnya jauh dari pandangan, jalanilah dengan berani, saat bersemangat ataupun lelah percaya kepada Allah dan lakukan yang benar.

Harga ketaatan tak ada artinya dibandingkan harga yang harus dibayar karena ketidaktaatan.

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII

Jumat, 07 September 2012

"Manfaat Penderitaan"

Seorang yang sinis bertanya kepada seorang percaya yang telah mengidap sakit parah selama 20 tahun. "Apakah yang anda pikirkan tentang Allah anda sekarang?". Si penderita yang saleh tersebut menjawab, "Saya justru semakin lebih mengenalNya."

Penderitaan dapat menjadi sarana untuk semakin mendekatkan kita kepada Allah. Ketika kemalangan yang menghantam bertubi-tubi telah merenggut kesehatan kita, teman-teman kita, uang kita dan situasi kita yang menyenangkan, Allah menjadi satu-satunya pegangan hidup bagi kita. Kita mengasihiNya karena keberadaan pribadiNya dan bukan karena semata-mata karena apa yang telah diberikanNya.

Penderitaan akan menuntun kita ke tempat yang tidak mengenal rasa kehilangan, suatu tempat dimana tak ada dukacita, tetapi hanya sukacita dan pelayanan dimana untuk itulah kita telah dipersiapkan sepenuhnya. Inilah cara pandang yang benar tentang penderitaan. Inilah manfaat penderitaan.

Saat kita tak mempunyai apa-apa lagi selain Allah, kita menemukan bahwa Allah saja sudah cukup.

sumber : Santapan Rohani edisi Tahunan VIII

Kamis, 06 September 2012

"Memimpin atau Mengikuti"

Joe, seorang anak pemarah, cenderung memberontak, masuk sebagai siswa di kelasku pada pertengahan tahun ajaran dan termasuk salah seorang yang menyulitkanku. Dalam usia yang sangat muda, ia sudah mengalami banyak kesukaran dan hanya diberikan sedikit pilihan. Ia tidak mematuhi dan menantangku meski ia nyaris tak tahu akibat pemberontakkannya.

Aku putuskan tetap bertahan sebagai pihak yang berwenang mengaturnya sampai Joe menyadari bahwa aku peduli padanya dan ingin melakukan segala yang terbaik baginya. Di akhir tahun ajaran, Joe menyadari, aku mengasihinya dan ia pun mempercayaiku untuk mengajar dan membimbingnya.

Aku menyadari bahwa dalam hubunganku dengan Allah, aku pun sering berlaku seperti Joe, berusaha mengendalikan kondisiku meski dalam ketakutan dan frustasi. Saat berdoa dan mengikuti tuntunan Allah, aku belajar tidak lagi bergegas mendahului atau berupaya mengambil alih kendali Allah. Sama seperti yang Joe lakukan kepadaku, aku pun menjadi makin yakin bahwa Allah sesungguhnya mengasihiku dan dapat dipercaya untuk mengajar dan membimbingku.

sumber : Saat Teduh Vol. 71 No. 5

Selasa, 04 September 2012

"Kesempatan Kedua"

Gita mengembangkan senyum saat ayah mengambil fotonya di gerbang masuk universitas.

"Kami bangga denganmu," kata ibu sambil melingkarkan pelukan pada bahu puterinya.

Gita mengajak orang tuanya duduk di tangga bangunan kampusnya. Seorang pemandu bercerita kepada anak-anak sekolah yang berkunjung untuk orientasi kampus, "Universitas ini menduduki urutan teratas untuk prestasi akademik."

"Universitas ini memilki sisi lain selain prestasi akademik yang jarang dikisahkan," ujar Gita sambil meletakkan topi kelulusan ke dadanya.

Kabut turun menaungi kawasan kampus.

"Gita datang ke kampus ini sebagai mahasiswa internasional. Segalanya nampak lancar dengan perjalanan akademik. Pada tahun kedua, kaki Gita berjalan tertatih-tatih dan akhirnya tersungkur ke tanah."

Kalimat Gita terhenti aliran air mata.

Seorang profesor tua yang sedang menuruni tangga menghampirinya,

"Apakah aku boleh menemanimu duduk?"

Sebuah kisah yang berliput air mata terdengar.

"Gita, aku duduk di tangga yang sama sepertimu 50 tahun lalu." Seorang profesor melihatku sendirian.

"Saya akan bicara dengan para dosen lain. Murid sepertimu pantas mendapatkan kesempatan kedua. Maukah engkau menerimaku sebagai perantaramu?"

Saat penolong hadir memberikan kesempatan kedua, separuh kesedihan karena kesendirian sudah terseka. Di saat ada uluran hangat seorang sahabat, kaki yang tertatih dan tersungkur menguat dan bertahan dua kali lipat.

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Sabtu, 01 September 2012

"Belajar Dari Tanaman"

Para tamu mungkin heran mengapa saya menaruh tanaman pakis yang tidak bagus dipandang di ruang keluarga. Sebenarnya tanaman tersebut melambangkan sebuah persahabatan yang rapuh dan saya menaruhnya di temapt yang mencolok untuk mengingatkan saya supaya mendoakan sahabat saya, yang juga sudah saya lakukan setiap hari menyiraminya dan itu berarti saya pun jarang mendoakan sahabat saya.

Tanaman pakis saya mengering dan menjadi layu karena saya tidak menyiraminya dan saya mengalami hal yang serupa dalam kehidupan rohani saya. Selama kehidupan saya tidak dilanda krisis, saya berfikir bahwa doa dapat ditunda. Namun saya salah. Ketika berkat-berkat Allah datang, saya merasa tidak membutuhkan Dia, padahal itu justru berarti saya lebih miskin daripada sebelumnya.

Saya belajar dari tanaman pakis saya untuk senantiasa berdoa bahkan ketika saya merasa tidak membutuhkanNya. Saya senantiasa membutuhkan Allah, baik ketika saya diberkati maupun ketika di masa krisis.

Mudah sekali lupa berbicara kepada Tuhan saat semua hal berjalan sesuai dengan kehendak kita. Namun pada saat itulah kita paling membutuhkanNya agar kita tidak menyimpang dariNya dan tersesat. Tidak ada satu hari pun dimana kita tidak membutuhkan doa.

sumber : Santapan Rohani edisi Tahunan VIII