Sabtu, 31 Maret 2012

"Ciuman Tuhan"

Setelah pulang kerja larut malam, Galih dan Ratna menjenguk puterinya di tempat tidur.

Puterinya tertidur sambil tersenyum. Keesokkan harinya Galih menyapa puterinya saat mereka makan pagi bersama.

"Tadi malam Shinta mimpi apa?"

Kedua pipi Shinta berubah warnanya seperti jambu air.

"Tuhan mencium dua pipi Shinta".

"Apakah tadi malam Tuhan mencium Shinta untuk pertama kalinya?" tanya Ratna.

"Shinta hampir selalu sudah tidur saat papa dan mama pulang kerja. Sebelum berangkat tidur, Shita minta Tuhan memberi ciuman sebagai ganti kecupan papa dan mama."

Kisah ini boleh menjadi kisah kehidupan nyata bagi banyak orang tua termasuk kita ketika memasuki saat - saat awal dunia kerja. Kita pulang larut malam dan hanya berjumpa dengan keluarga pada akhir pekan.


sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Jumat, 30 Maret 2012

"Malaikat Pelindung"

Sepasang suami isteri hidup bahagia. Sang suami bekerja sebagai marinir, sedangkan isterinya bekerja disebuah kantor swasta. Suatu kali sang isteri mengalami kecelakaan dan matanya menjadi buta. Mulailah hari - hari gelap baginya. Hari - harinya dilalui dengan kemarahan baik kepada dirinya sendiri, kepada suaminya dan kepada Tuhan. Ketika masa duka yang paling panjang itu mulai mereda, suaminya tidak menginginkan isterinya terpuruk dalam keadaan mengasihani diri sendiri. Dia mulai mendidik isterinya agar bisa mandiri di rumah. Isterinya pun mau mencoba. Suatu hari suaminya mulai menawarkan apakah sang isteri mau bekerja kembali. Hal itulah yang sangat ditakutinya. Suaminya tidak lagi menyayanginya. Namun karena tidak mau dikasihani dia mau bekerja. Tuhan itu baik. Dia diterima bekerja sebagai operator telepon yang tidak terlalu membutuhkan kemampuan mata.

       Masih ada satu masalah lagi. Suaminya harus mengantar jemput ke dan dari kantor dengan baik bus kota. Hari - hari pertama, suaminya mengajarinya bagaimana ia harus berjalan ke halte, menaikinya, pesan kepada sopir untuk menurunkannya ditempat kerjanya. Setelah dirasa cukup, suatu pagi sang suami berkata, "Ma, mulai hari ini kamu berangkat sendiri." Dengan perasaan hancur karena sedih, isterinya berangkat juga. Ternyata dia bisa. Hal itu semakin membangkitkan semangatnya. Suatu saat ketika dia turun dari bus, dia mendengar sopirnya berkata, "ibu wanita yang paling beruntung!". Seketika itu kemarahannya meluap. Dengan menahan diri dia berkata, "Apa maksud Bapak?" Sopir itu lalu bercerita bahwa setiap pagi ada seorang marinir yang gagah yang selalu mengikutinya dari belakang. Wanita itu menangis haru. Dia baru sadar bahwa suaminya ternyata secara diam - diam terus mengawalnya.

Ada saat - saat didalam hidup kita ketika kita merasa ditinggalkan oleh orang - orang yang kita kasihi. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.


sumber : Xavier Quentin Pranata. Kisah Inspirasional Plus. Yogyakarta : Moriel Publishing House 2010

Kamis, 29 Maret 2012

"You Get What You Think"

Seorang sales sedang dalam perjalanan keliling untuk memasarkan dagangannya. Negara yg sedang krisis mebuat dagangannya tidak laku. Dia memutuskan untuk menyetir kembali mobil boksnya. Di tengah jalan yang sepi dan jauh dari rumah penduduk, bannya kempis. Terpaksa dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan menciba mengganti bannya dengan ban cadangan. Ternyata dongkraknya tidak ada di tempat.

Dari kejauhan dia melihat sinar lampu keluar dari jendela sebuah rumah. Dia segera ke sana untuk meminjam dongkrak. Dia baru memulai melangkah ketika hujan turun dengan lebatnya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Hatinya yang sudah jengkel langsung membara. Dia mulai marah terhadap keadaan yg kurang menguntungkan maupun kepada dirinya sendiri. Kepalanya dihantui oleh pikiran negatif. "Ah orang zaman sekarang egois. Jangan - jangan pemilik rumah itu sama saja. Apa dia mau keluar di malam - malam yg dingin seperti ini? Paling - paling dia membuka pintu dan membantingnya kembali!". Karena dihantui pikiran negaifnya sendiri, ketika sampai di depan rumah orang itu, dia mengetuk rumah orang itu dengan kasar. Begitu rumahnya dibuka, dia berkata, "Kamu pasti malas membuka pintu bukan? Aku ingin pinjam dingkrak sebenarnya, tapi kamu pasti tidak mau memberikannya bukan? Kamu memang orang yg egois!". Ketika menanggapi kata - kata kasar itu, pemili rumah yg terbangun itu menjadi marah dan benar - benar membanting pintunya, mengunci dan kembali tidur.

Kemarahan itu tidak saja merugikan tetapi juga menular. Mari kita kendalikan amarah kita sebelum amarah kitalah yg justru mengendalikan kita.

sumber : Xavier Quentin Pranata. Kisah Inspirasional Plus. Yogyakarta : Moriel Publishing House 2010

Selasa, 27 Maret 2012

"Uang Kembalian"

Saat berkunjung ke Yogyakarta, Julie mengajak Prita untuk berbelanja di kawasan Malioboro. Mereka berhenti di sebuah gerai t - shirt dan tawar menawar harga dengan penjualnya. Akhir pekan ini penjual nampak kewalahan dikerubuti puluhan pengunjung.

"Berapa harganya?" ujar seorang pengunjung sambil menunjukkan t - shirt bergambar becak.

"Kalau t - shirt ini?" potong pengunjung lain.

Belum sempat menjawab pertanyaan, pengunjung lain menyerobot dengan pertanyaan lain. "Kalau beli dua, berapa jadinya?"

Sambil menjawab pertanyaan, penjual membungkus t - shirt pilihan Julie dan Prita.

Mereka melanjutkan keliling kota dengan menyewa andong.

Saat hendak membayar ongkos transportasi, paras Julie seketika pucat.

"Engkau kecopetan?" tanya Prita cemas.

"Uang kembalian t - shirt terlalu banyak".

"Engkau mestinya gembira, bukan terperanjat!"

"Engkau masih ingat penjualnya?"

"Ingat sih. Tapi jaraknya terlalu jauh jika kita  hanya ingin menyerahkan uang kelebihan."

"Jaraknya sangat dekat jika dibandingkan dengan kerugian yang diderita penjual."

"Uang kelebihannya lagi pula sedikit."

"Bagi penjualnya barangkali nilainya besar. Jangan menjual intergritas demi uang kelebihan."

Kita terlalu murah menghargai diri jika mengambil uang relatif sedikit yang bukan hak kita. Seberapa besar kita menghargai diri berpengaruh pada penghargaan orang lain terhadap kita.


sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Sabtu, 24 Maret 2012

"Ukuran Pembanding"

Mata Dina terbelalak dan mulutnya cemberut begitu menerima hasil ujian sejarah. Ia langsung meremas kertas ujian dan buru - buru menyembunyikan dalam laci.

"Memalukan hasilnya."

Lenguhan kekecewaan juga terdengar dari teman sekelasnya.

"Sebel banget sich. Aku bela - belain nggak main seminggu buat menyiapkan ulangan sejarah kemarin. Aku cuma dapat nilai 85," ujar Dina kepada beberapa teman dekat.

"Kamu mesti beruntung dapat nilai segitu. Aku lagi ketiban sial. Nilaiku hanya 70," kata Adriani dengan wajah masam.

"Seandainya menjadi kalian, aku sudah senang dengan hasil segitu. Lihat nih nilaiku. Hancur," kata Renata sambil memungut kertas ulangan yang telah dibuangnya ke keranjang sampah.

Paras Dina seketika berubah cerah.

"Benar nilaiku lebih tinggi daripada kalian?"

Mereka menganggukkan kepalanya dengan lemas. Dina lalu menanyai satu demi satu teman sekelasnya.

"Siapa sangka nilai ulanganku ternyata tertinggi di kelas," ujar Dina bangga.

Ia membetulkan kerutan pada kertas ulangan yang hampir dirobeknya. Ia lalu meletakkan di atas meja. Ia ingin semua melihat nilai ujiannya.

"Hargai dirimu tanpa harus menengok sekeliling sebagai ukuran pembandingnya," ujar mama menanggapi kisah Dina, puterinya.

sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just for You. Yogyakarta : Kanisius 2009 

Rabu, 21 Maret 2012

"Ramuan Ajaib"

Seorang wanita yang baru mengalami kematian anaknya, menemui seorang guru dan bertanya,

"Guru, apakah anda memiliki ramuan ajaib untuk mengembalikan anakku?"

Sang guru tidak berusaha beragumentasi dengan wanita tersebut atau mengusirnya sebab permintaan tidak masuk akal itu. Akan tetapi, dia berkata kepada wanita tersebut,

"Carilah sebuah jamur di rumah yang tidak mengenal kesedihan. Setelah kau menemukan jamur itu, kita bisa sama - sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan puteramu."

Mendengar jawaban itu, si wanita segera berangkat mencari jamur yang dimaksud. Pertama, dia tiba di depan sebuah rumah mewah. Dia mengetuk pintu dan berkata,

"Saya mencari sebuah rumah yang tidak pernah mengenal kesedihan. Apakah ini tempatnya? Hal ini sangat penting bagi saya."

Pemilik rumah itu menjawab, "Anda jelas datang ke rumah yang salah."

Pemilik rumah kemudia mulai bercerita tentang tragedi yang pernah dialami keluarganya. Mendengar cerita sedih dari si pemilik rumah, wanita tersebut berfikir, "Siapa yang bisa membantu orang yang nasibnya lebih alang dari saya ini?"

Maka, ia pun memutuskan untuk tinggal dan menghibur pemilik rumah itu. Setelah si pemilik rumah merasa lebih baik, wanita itu berangkat lagi mencari ke rumah berikutnya.

Tetapi, kemana pun ia pergi, ia selalu menemukan kesedihan. Berulang - ulang wanita itu terlibat dalam upaya menghibur semua orang yang dikunjunginya. Dia telah melupakan tujuan awalnya tanpa menyadari bahwa kesedihan yang dulu begitu menyita perhatiannya sudah terlupakan.

Anda yang sedihnya tidak ketulungan, You'r not alone! Percayalah anda masih bisa membuat perbedaan bagi dunia ini.

sumber : A.Puryan "Blitzer". Snack for the Soul. Jakarta : Cicero Publishing 2008

Selasa, 20 Maret 2012

"Menang Atas Masalah"

   Seorang ibu melahirkan sepasang anak kembar berjenis kelamin perempuan. Karena sudah memiliki banyak anak, mengalami kesulitan ekonomi, pasangan muda itu dengan berat hati menyerahkan kedua anak kembarnya ke orang tua yang berbeda. Yang seorang diserahkan ke sebuah keluarga yang sederhana, sedangkan yang lain diberikan kepada keluarga yang berada. Mereka dibesarkan di dua kota yang berbeda. Ketika menginjak remaja, mereka bertemu satu sama lain. Pertemuan itu menimbulkan masalah. Yang seorang merasa puas dengan dirinya sendiri, berprestasi dengan mengucap syukur. Sebaliknya, saudara kembarnya justru marah dengan diri sendiri, kedua orang tua kandungnya dan dengan kedua orang tua angkatnya. Dia bahkan kecewa kepada Tuhan karena merasa tidak mendapatkan orang tua sekaya saudara kembarnya.

      Minimal sekali dalam hidupnya, manusia pernah bertanya atau bahkan mempertanyakan Tuhan mengapa aku dilahirkan di tempat seperti ini, dari pasangan orang tua yang begini, dibesarkan dilingkungan begini. Kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan pada waktu yang kita inginkan, di tempat yang kita dambakan, dari pasangan yang kita idam - idamkan. Namun, kita bisa memilih untuk memompa diri untuk keluar dari kepompong keterbatasan dan terbang tinggi serta menikmati langit kebebasan. Kita terbatas, tetapi Tuhan tidak terbatas. Kita tidak sempurna, tetapi Tuhanlah yang akan menyempurnakan kita.


sumber : Xavier Quentin Pranata. Kisah Inspirasional Plus. Yogyakarta : Moriel Publishing House 2010

Senin, 19 Maret 2012

"Janji Jemput"

7 Desember 1988 gempa bumi dengan skala 6.9 richter meluluhlantakkan Aemenia, sebuah negara perbatasan antara Turki dan Azebaijan. Kota Spitak bahkan hancur total hingga kota baru perlu dibangun pascagempa. Tim penyelamat dengan bantuan anjing pelacak berusaha menyelamatkan korban yang barang kali tertimbun reruntuhan dan mungkin diselamatkan kehidupannya.

Seorang laki-laki bergegas menuju sekolah puteranya. Ia mendapati sekolah runtuh.

"Ruang kelas anakku kemungkinan di sekitar sini," katanya sambil mengangkati reruntuhan bangunan.

Beberapa warga yang melihatnya menasihati,

"Tindakanmu akan berakhir sia-sia. Jangan melelahkan diri, apalagi melukai dirimu. Engkau lebih baik pulang ke rumah."

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.

"Aku berjanji menjemput Armand, anakku, sepulang dari sekolah."

"Ia akan berhenti sendiri ketika malam tiba," kata beberapa orang.

Tanpa menghiraukan lelah ia menyingkirkan reruntuhan yang memakan waktu hingga 38 jam.

"Ayah!"

"Armand!"

"Ayah! Aku bersama 14 teman sekolah menanti ayah. Kami bertahan hidup karena aku ingat janji ayah menjemputku pulang dari sekolah."

"Ayah setia janji," sambil mengelap peluh dan air mata.


sumber : Mutiara Andalas, S.J.Just For You.Yogyakarta : Kanisius 2009

Jumat, 16 Maret 2012

"Berbagi Kasih"


Sepasang suami istri menjumpai Teresa Calcutta.


"Ibu, kami berdua datang hendak menyerahkan sumbangan kemanusiaan untuk rakyat miskin."

"Sebanyak ini?" tanya Teresa Calcutta dalam ketakjuban.

"Kami menikah dua hari lali. Sebelum pernikahan, kami berjanji untuk menyelenggarakan pesta sederhana. Sebagai tanda kesaksian kasih kepada sesama, kami menyerahkan sisihan uang pernikahan untuk kehidupan rakyat miskin melalui Ibu."

"Saya sungguh menghargai kemurahan hati kalian." ujar Teresa Calcutta penuh syukur.

"Kalau boleh Ibu tahu, mengapa kalian sebagai pribadi-pribadi muda tergerak memperhatikan rakyat miskin?"

"Kami mengasihi satu sama lain. Kami ingin berbagi kasih berlimpah ini dengan saudara-saudari lain, terutama rakyat miskin yang Engkau layani dengan penuh kasih."

Pada kesempatan lain Teresa Calcutta bertutur,

"Dunia kedokteran melakukan riset untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Hilangnya cinta merupakan penyakit yang membutuhkan tangan kebaikan dan hati yang murah hati sebagai obatnya."

Lebih mudah menyumbangkan uang daripada memberikan cinta. Yang paling baik adalah menyumbang dengan didasari cinta.


sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

" Mengasihi Tuhan dan Sesama" (Markus 12 : 28b - 34)

     Mudah diucapkan sulit untuk dilakukan, kiranya begitulah ungkapan atas pernyataan mengasihi Tuhan dan sesama. Kecenderungan manusia yaitu sifat egois  cinta pada diri sendiri. Menengok pada masa sekarang ini adanya radikalisme dalam beragama karena hanya memandang kepercayaan yang mutlak kepada Tuhan, tanpa mengamalkan pada cinta sesama. Sebagai pengikut Kristus ajaran itu hendaknya diamalkan secara seimbang baik mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Pada masa sekarang ini perlu bagi kita sebagi bukti cinta kepadaNya menjalani kehidupan didasari dengan doa. Kekuatan doa akan menghindarkan dari pencobaan dan perbuatan jahat. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan hidupnya akan damai dan pasti akan mencintai sesama. Mengapa demikian? karena melihat wajah Tuhan hadir dalam sesamanya, sebagaimana melihat dirinya sendiri dicintai Tuhan. Maka orang yang engasihi Tuhan tidak akan berdiam diri melihat sesamanya menderita dan sengsara. Ia akan melakukan yang terbaik bagi sesama yang memerlukan uluran tangan kasihnya sebagai bukti cinta kepada Tuhan.


sumber : Retret agung umat 2012, Perjalanan rohani menanti kebangkitan

Rabu, 14 Maret 2012

"Aku Mendamba Romo"

Aku mendamba Romo yang penuh kasih
Bukan yang pilih kasih
Aku mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean
Itu berarti pemberian umat
Sebagai tanda cinta, tanda hormat

Aku mendamba Romo yang galak tapi sumanak
Kaku pada dogma tapi lucu kala canda
Yang lebih memegang rosario
Dibandingkan BB warna hijau
Aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar
Dibanding berujar

Aku mendamba Romo yang menampung air mataku
Tanpa ikut menangisi
Yang mengubah putus asa menjadi harapan
Yang mengajar ritual sekaligus spiritual

Duuuuh, damba dan inginku banyak, banyak sekali
Tapi aku percaya tetap terpenuhi
Karena Romoku mau dan mampu selalu memberi
Inilah damba dan doaku, Romoku

Eee, masih ada satu lagi
Sekali mengenakan jubah, jangan berubah
Jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah
Bahkan sampai ada laut terbelah
Kenakan terus jubahmu
Itulah khotbah yang hidup
Agar aku bisa menjamah
Seperti perempuan Samaria pada Yesus Allah Tuhanku

Aku mendamba Romo yang menatapku kalem
Bersuara adem
"Berkah Dalem ..."


Puisi Romo karangan Arswendo Atmowiloto

"Hukum Taurat" (Matius 5 : 17 - 19)

      Mungkin ada yang salah memahami sikap Yesus  yang menentang Ahli Taurat dan Orang Farisi sebagai wujud pertentanganNya terhadap hukum Taurat itu sendiri. Yesus tidak menentang hukum Taurat karena hukum Musa itu adalah tuntunan hidup manusia yang bersumber dari wahtu Allah. Yesus justru memuji orang yang mengajarkan hukum - hukum2 itu dengan seksama tapi Ia lebih menghargai yang mengajarkan tapi juga melaksanakannya. Mengajarkan hukum Taurat berarti mengajarkan kebenaran dan tuntunan iman sehingga membuka hati dan budi banyak orang agar melihat kebenaran. Orang yang melihat keselarasan antara pengajaran dan penghayatan akan lebih mudah tergerak untuk mencari Tuhan. Maka sungguh berbahagialah mereka yang melakukan semuanya karena ia tidak saja menyelamatkan jiwanya tapi juga menolong menyelamatkan jiwa orang lain.

Selasa, 13 Maret 2012

"Pintu Kedamaian"

"Apakah Tuhan menciptakan sebagian manusia dengan kepribadian jahat?"

"Apakah salah saya menaruh kebencian terhadap orang - orang tertentu yang selalu menjahati saya?" tanyanya lebih lanjut.

Mata semua peserta terarah pada pendamping seminar.

"Saya tahu pasti oknum yang engkau maksud," potong seorang laki-laki sambil mengedipkan mata penanya.

"Apakah saya boleh mendengar 1 perbuatan jahatnya?"

"Saya bisa menyebutkan 100 perbuatan jahatnya!" ujarnya diikuti suara riuh peserta.

"Perkenankan saya mengajukan tiga pertanyaan," kata pembicara.

"Kapan saudara-saudari tersenyum kepadanya terakhir kali?"

Sebagian peserta menundukan kepala untuk menyembunyikan ketersipuan wajahnya.

"Kapan saudara-saudari berbicara terakhir kali dengannya?"

Kepala sebagian besar peserta semakin tertunduk.

"Kapan saudara-saudari tanpa sikap menghakimi mengenai pribadi tersebut?"

Ruang seminar seketika berteman keheningan.

"Senyum, sapaan, dan sikap positif adalah pintu - pintu perdamaian dengan sesama. Paras cemberut, sikap mendiamkan dan menghakimi menyebabkan kita kehilangan sesama".


Sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

"Pengampunan" (Matius 18 : 21 - 35)

       Masa Prapaskah adalah masa bertobat. Awal pertobatan adalah menyadari dan mengakui dengan jujur dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan. Terjadi penyesalan yang mendalam dan niat yang kuat untuk tidak akan melakukannya lagi. Semangat mengampuni harus selalu menjadi sifat dasar orang Katolik. Tuhan sendiri selalu mengampuni dan selalu membuka maaf bagi siapapun yang ingin bertobat dengan sungguh. Satu aspek penting lain yang ditekankan pada hari ini adalah bahwa kita harus mengampuni orang lain dengan segenap hati. Tidak hanya dibibir saja, sering terjadi bahwa maaf hanya untuk formalitas saja. Sedangkan jauh di dalam lubuk hatinya masih menyimpan dendam dan belum bisa mengampuni.
     Agar kita pantas merayakan Paskah dan menerima Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi, marilah pada Masa Prapaskah ini mohon rahmat Tuhan agar mampu mengampuni dengan segenap hati, khususnya orang yang sampai saat ini masih belum bisa kita maafkan.


Sumber : Retret Agung Umat 2012 : Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan

Senin, 12 Maret 2012

"Ditolak" (Lukas 4 : 24 - 30)

       Pengalaman ditolak tentu menyakitkan. Meskipun demikian, marilah kita belajar pada Yesus yang mempunyai kebebasan hati, kemerdekaan batin. Tentu hati sedih ketika ditolak. Akan tetapi marilah kita tidak membiarkan hati kita terpenjara oleh rasa sakit apalagi dendam  karena ditolak. Marilah kita mengikuti Yesus yang "Berjalan lewat ditengah2 mereka lalu pergi!" Artinya yang sudah biarlah, kita mengerti, kita ampuni dan kita memulai lagi yang baru. Masih ada tempat lain yang harus memperoleh pewartaan Injil seperti Yesus pergi ke tempat lain.

"Dekat dengan - Mu"

Teresa dari Calcutta suatu ketika berbincang - bincang dengan seorang imam Katolik sekaligus ahli di bidang ilmu Ketuhanan dari India.

"Engkau berbicara tentang Allah sepanjang hari. Engkau tentu dekat sekali dengan Allah."

"Teresa, aku barangkali berbicara  banyak sekali tentang Allah. Namun aku mungkin berbicara sedikit sekali dengan-Nya."

Ia berbicara lebih lanjut kepada Teresa.

"Aku barangkali bicara panjang lebar tentang Allah dan pembicaraanku bagus sekali. Namun di kedalaman hatiku boleh jadi miskin waktu untuk mendengarkan Allah. Dalam keheningan hati, Allah berbicara dengan kita."

"Allah ingin berbicara dengan kita. Betapa sering kita menganggap doa sebagai langkah sepihak manusia yang berbicara dengan Allah," tutur Teresa.

Teresa menawarkan beberapa langkah praktis agar kita semakin mendengarkan suara Allah.

"Jagalah keheningan penglihatanmu

Jagalah keheningan pendengaranmu

Jagalah keheningan tuturmu

Jagalah keheningan pikiranmu

Jagalah keheningan hatimu."

Tuhan tahu kita serasa tak punya kata-kata lagi untukNya. Dalam keheningan hanya hati yang terpaku padaNya dan tak ingin lepas.


sumber : Mutiara Andalas, S.J, Just For You, Yogyakarta : Kanisius 2009

Sabtu, 10 Maret 2012

"Diterima, Dicintai dan Dihargai" (Lukas 15 : 1 - 3. 11 - 32)

            Anak bungsu dalam perumpamaan Yesus itu ada dalam kondisi tidak seimbang karena didera rasa bersalah telah mengkhianati cinta ayahnya. Ia akan datang dg rasa rendah diri yg besar. Sebetulnya sang   ayah dapat memarahinya tapi ia tahu betul, kemarahan dan pengucilan hanya akan menambah dalam luka batin itu. Si bungsu lebih terpuruk dan mungkin akan pergi lagi. Sikap sang ayah itu sangat tepat karena dg menerima, ia membuat proses penyembuhan luka2 batin si bungsu. Tak ada yg lebih menyembuhkan daripada merasa diri diterima, dicintai dan dihargai kembali. Menyadari kedosaan kita, tidak ada salahnya kalau kita masing2 bersikap seperti sang ayah dalam perumpamaan itu. Dg menerima sesama berdosa yg bertobat, kita ambil bagian dlm proses penyembuhan luka2 batin. Hati yg disembuhkan akan lebih dalam mencinta Yesus.

Jumat, 09 Maret 2012

"Penggarap dan Ahli Waris" (Matius 21 : 33 - 43. 45 - 46)

       Nuansa pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, antara cinta dan keculasan sangat kuat dalam perumpamaan ini. Pemilik kebun, Tuhan sendiri mengirim utusan untuk mengambil bagian keuntungan dari para penggarap. Mengirim utusan dimasa panen berarti tuan itu mempercayai para penggarap. Satu utusan dianiayi, yg lain dipermalukan. Tuan tetap mengirim utusan itu berarti ia mencintai mereka. Apalagi yg dikirim terakhir ialah sang putera, Yesus. Namun egoisme manusia berbicara lain. Sang Putera pun ditolak oleh para penggarap. Kepercayaan pemilik kebun tidak dijaga, hak2 khusus mereka akhirnya dicabut, mereka pun menemukan kebinasaan. Ketika Tuhan memanggil kita, Ia mempercayakan karyaNya kepada kita. Karya itu membuat kita mendapat hak memperoleh karunia rahmat. Namun ketika egoisme sempit membuat kita gelap mata, karunia khusus itu pun hilang. Kita bernasib seperti para penggarap yg lupa daratan itu.

Kamis, 08 Maret 2012

" Orang Miskin dan Orang Kaya " (Lukas 16 : 19 - 31)

            Kisah Lazarus yg miskin merupakan kritik atas ketimpangan sosial yg dihadapi Yesus di zamanNya. Tergambar jelas mentalitas manusia yg cenderung tidak memperhatikan penderitaan sesama. Disini kita ditantang untuk berbuat sesuatu yg membahaskan keluhuran Tuhan. Tuhan mencintai umatNya melalui manusia yg memperhatikan sesama. Siapa sesama yg perlu diperhatikan? hanya kesadaran dan keterbukaan iman kita yg dapat mengungkapkannya. Lazarus selalu ada disekitar kita. Hanya kita lebih sering bersikap seperti orang kaya. Saatnya bertobat!!!!

Selasa, 06 Maret 2012

"Mereka Mengajarkan tapi Tidak Melakukan" (Matius 23 : 1 - 12)

         Yesus mengkritik ringkah laku orang2 Farisi dan ahli Taurat tapi Ia tidak menolak apa yg mereka ajarkan. Pengajaran mereka bersumber dari hukum Musa berarti berasal dari Wahyu Tuha. Mereka orang yg mempelajari secara khusus maka sangat penting kata2 mereka didengarkan. Inti sari pengajaran diambil dan dijadikan inspirasi bagi hidup pribadi tapi tingkah laku mereka yg munafik tidak boleh menjadi pegangan banyak orang. Yg paling ideal ialah antara ajaran & praktek ada keselarasan. Namun tak mudah mencapai yg ideal ini. Ada yg mampu mengajar tapi tak mampu melaksanakannya. Yg lain tidak mampu ngajar tapi dapat menjabarkannya didalam perbuatan. Tak ada salahnya kita kalau kita mengejar yg ideal itu.

Senin, 05 Maret 2012

" Murah Hati " (Lukas 6 : 36 - 38)

       Yesus ingin agar para muridNya bermurah hati, tidak menghakimi dan tidak menghukum. Seseorang yg tidak bermurah hati cenderung menghakimi dan menghukum orang lain, menutup hati terhadap realitas bahwa tidak ada yg sempurna didalam dunia ini. Ketika orang tidak menyadari hal ini, ia condong tidak menghargai perjuangan. Padahal hidup manusia adalah perjuangan, penghayatan iman adalah perjuangan, mencapai keselamatan adalah perjuangan. Kita percaya, Yesus lebih menghargai perjuangan orang yg belajar dari kejatuhannya. Kita berusaha untuk menghargai semua perjuangan sesama kita yg ingin mengenal Tuhan secara lebih mendalam. Sebagai orang beriman, ,haruslah kita menjadi model bagaimana orang yg murah hati tidak menghakimi dan tidak menghukum.

Jumat, 02 Maret 2012

Cek Kehidupan

"Apa kata mama dan papa?"

Amanda menjawab dg senyuman. Ia mengacungkan dua ibu jarinya lalu melonjak dalam gendongan Reza.

"Nggak perlu kuatir. Papa dan Mama dg senang hati akan membantu meringankan beban kita'" ujar Amanda sambil mengecup pipi suaminya.

Krisis ekonomi mencemaskan Reza dan Amanda beberapa bulan belakangan. Uang tabungan keluarga perlahan - lahan berkurang.

Padahal mereka merasa telah mengencangkan ikat pinggang ekonomi.

"Saya sudah berusaha hemat belanja," kata Amanda mencari ruang kosong di kulkas untuk barang - barang yg baru saja dibelinya dari pusat perbelanjaan.

"Saya cemas dg masa depan anak - anak," tutur Reza sambil memijit dahinya.

Tiga hari kemudian Amanda menunjukkan sebuah surat dari orang tua kepada suaminya.

Saat tahun - tahun awal pernikahan orang tua Amanda selalu mengirimkan cek uang untuk tabungan jaga - jaga.

"Jangan sampai robek," demikian secarik pesan di kertas pembungkus.

Amanda menemukan cheque bersih dg catatan pendek dari orang tuanya.

"Amanda dan Reza, hidup kalian 'disini' dan 'saat ini'. Isilah sesuai kebutuhan."

Cek kembali kepada pemilik tanpa goresan.

"Terima kasih atas cek kehidupa."

Pergumulan sebagian masyarakat dunia zaman ini bukan bagaimana memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, melainkan menarik garis batas antara mencukupi kebutuhan dan memenuhi keinginan.


sumber : buku just for you karangan mutiara andalas, S.J penerbit kanisius

" Hati yg Bersih Akan Mudah Mendengarkan Sabda Tuhan " (Matius 5 : 20 - 26)

       Kalau hubungan dg yg kelihatan saja tidak berjalan dg baik, bagaimana hubungan dg yg tidak kelihatan akan berjalan dg baik?. Maka jika diawal perayaan ekaristi selalu ada doa tobat, kita sungguh diajak untuk mohon pengampunan dari Tuhan dan sekaligus diminta untuk rela memberi pengampunan kepada saudara2 kita. Dengan demikian bila hati kita "bersih" kita dapat memasuki Liturgi Sabda dan Ekaristi dg pantas. Hati yg bersih akan mudah mendengarkan sabda Tuhan. Hati yg mampu mengampuni akan mudah terbuka dan menerima masukan dari Tuhan. Lalu, kita pun pantas untuk menerima kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus.

Kamis, 01 Maret 2012

1 Ons

" Anak Stella ", sapa perawat di depan ruang praktek dokter Andre.

Ajeng mengangkat tangannya sambil memeluk bayinya masuk ruang periksa.

Entah berapa kali Ajeng membawa Stella ke puskesmas.

"Aku khawatir dengan kesehatan Stella", katanya kepada suami.

Jawaban dokter Andre terdengar seperti refrain.

" Keadaannya masih sama".

" Silahkan Stella dinaikkan ke penimbang badan".

Pengalaman kerja dokter Andre memberi tahu hasil timbangan bahkan sebelum jarum timbangan bergerak.
Dokter menggelengkan kepala saat melirik jarum timbangan.

Wajah Ajeng memucat. Peringatan dari dokter tentang kesehatan Stella seolah meledak di kepalanya.

"Kegagalan pertumbuhan anak ibu dapat mengancam keselamatannya."

" Apakah Stella boleh ditimbang sekali lagi?"

" Bukankah kita sudah mengetahui hasilnya?"

"Mata saya melihat sesuatu yang lain."

Stella kembali naik ke alat timbangan.

" Lihat, anak saya naik 1 ons," ujar Ajeng sambil menggoncang - goncang bahu dokter.

" Terlalu sedikit. Stella seharusnya naik beberapa kilogram."

" 1 ons barangkali kurang berarti bagi dokter, namun berarti bagi ibu yg merawatnya setiap saat."

Selalu ada harapan biarpun hanya segaris. Karena dengan harapan akan ada segaris... segaris... dan segaris lagi.


sumber : Just for you karangan mutiara andalas, S.J penerbit kanisius