Jumat, 31 Agustus 2012

"Spesial"

Kata "Spesial" tertulis besar pada spanduk lebar yang direkatkan di sisi bus itu. Murid-murid yang mengikuti perjalanan misi musim panas memberi nama "spesial" pada bus yang mereka beli untuk sebuah gereja di La Paz, Honduras, tempat mereka melayani selama beberapa musim.

Sebagai pembimbing, saya menyakinkan bahwa bus itu sudah sangat tepat diberi nama itu. Kaca depannya retak dan tidak dapat diperbaiki karena gantinya sangat sulit dan tidak mungkin ditemukan di Honduras. Sering "Spesial" harus masuk bengkel untuk menjalani perbaikan mesin. Tetapi, tiap minggu bis ini berhasil mendaki dan menuruni jalan pegunungan yang berdebu menuju gereja mengantar umat yang tidak memiliki transportasi ke gereja.

Sesungguhnya, segala hal yang dipersembahkan untuk dipakai melayani Allah, menjadi spesial. Begitupun umat Allah. Hidup sesuai kehendakNya membuat kita kudus dan menjadi spesial dalam cara kita yang unik. Allah menciptakan tiap kita berbeda demi tujuan yang unik.

sumber : Saat Teduh Vol. 71, No. 5

Kamis, 30 Agustus 2012

"Pelayanan Rohani"

Orang-orang yang termasuk dalam kasta brahmana di India tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Oleh karena itu, betapa terkejutnya Shirman Naraarayan ketika menyediakan waktu untuk belajar di asrama kepunyaan Gandhi, ia ditugasi untuk melakukan pekerjaan yang dianggapnya dapat menurunkan martabatnya.

Pria muda tersebut telah meraih gelar doktor dari London School of Economics, datang ke asrama untuk meminta panduan tentang masa depannya. Ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa setiap orang yang datang ke asrama memang harus diberi sejumlah tugas tertentu dan tugas Shriman adalah membersihkan toilet. dengan sangat tersinggung, ia segera menemui Gandhi dan mengadu, "Saya bergelar doktor. Saya bisa melakukan hal-hal yang hebat. Mengapa anda menyia-nyiakan waktu dan bakat saya dengan menyuruh saya membersihkan toilet?" Gandhi menjawab, "Aku tahu kamu mampu melakukan hal-hal hebat, tetapi aku juga harus melihat kemampuanmu dalam melakukan hal-hal kecil."

Mungkin anda benar-benar memenuhi syarat untuk melayani Tuhan dengan cara yang berarti. Anda mungkin berpotensi untuk melakukan pelayanan rohani yang hebat dan efektif. Namun, bersediakah anda dengan rendah hati melakukan tugas-tugas kasar, jika Dia meminta anda untuk melakukannya? Apakah anda cukup rendah hati untuk dipakai Allah?

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII 

Rabu, 29 Agustus 2012

"Saat Kita Sakit Hati"

Salah satu kerabat kami mengatakan sesuatu yang buruk mengenai aku dan hatiku begitu terluka. Saat suamiku tiba di rumah malam harinya, ia memutuskan untuk tidak akan bicara lagi dengan kerabat kami itu.

Namun, selang waktu seminggu kami sudah mengunjungi mereka. Awalnya memang terasa kikuk, tetapi segera kami melupakan peristiwa itu, bahkan kemudian kami membantu mereka yang saat itu sedang mengalami masalah. Saat itu, aku mengira kemampuanku mengampuni dan tidak mendendam disebabkan sifat bersahabat dan tenggang rasaku.

Bertahun-tahun kemudian, aku aktif mengikuti dan memimpin kelompok pemahaman Alkitab. Mempelajari Alkitab membantuku menyadari bahwa hanya karena "kasih Allah telah dicurahkan didalam hati kita" maka aku dapat mengampuni dan mengasihi mereka yang telah melukai hatiku. Aku tahu bahwa bahkan saat kita sangat terluka dan mendamba balas dendam, kita dapat mengakui perasaan kita kepada Allah, yang dapat mengubah luka menjadi kasih. Dengan kasih Allah didalam diri kita, kita akan dapat mengasihi mereka yang menyakiti hati kita.

sumber : Saat Teduh vol. 7 no.5

Senin, 27 Agustus 2012

"Lomba Berbuat Baik"

Saya merasa beruntung karena selalu mendapat tempat duduk didalam busway yang saya tumpangi setiap pulang dari sekolah tempat saya mengajar. Satu kali, seorang ibu yang sudah cukup umur berdiri didepan saya. Melihatnya cukup kesulitan untuk berdiri bergantung, saya pun berdiri dan mempersilakannya duduk. Menurut saya apa yang saya lakukan sangat normal. Namun heran, saya menerima tatapan aneh dari hampir semua orang disekeliling saya waktu itu. Seakan saya bisa membaca tatapan mereka yang berbunyi, "Bodoh sekali, sudah enak bisa duduk malah memilih berdiri." Tapi saya cuek saja karena saya merasa senang bisa memberikan tempat duduk saya pada ibu itu.

Saya masih ingat salah seorang pria muda yang awalnya juga memberikan tatapan aneh pada saya.Namun tak sampai lima menit kemudian, saya melihatnya berdiri dan mempersilakan seorang bapak yang berdiri didepannya untuk duduk.

Sebenarnya saya tergoda untuk membalas tatapan anehnya. Tapi yang keluar hanya senyuman di bibir saya. Ada perasaan senang karena bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan suatu kebaikan. Saya berfikir, alangkah indahnya jika kita semua berlomba untuk melakukan perbuatan baik seorang kepada yang lain. Dan saya yakin, semua itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri. Perbuatan sekecil apapun, kita tidak akan pernah tahu jika itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan yang sama atau bahkan lebih lagi.

sumber : Komunitas Keluarga Kudus Allah. Bahasa Kasih. Januari 2011

Sabtu, 25 Agustus 2012

"Hanya Anda dan Allah."

Teman saya, Ron mengalami minggu yang tidak menyenangkan. Pekerjaan barunya telah menempatkan Ron di tengah-tengah orang-orang yang bermulut kotor, kasar dan menjengkelkan. Ron adalah pria yang tegar tetapi setelah dua bulan bekerja dalam lingkungan seperti itu, ia tidak yakin apakah ia masih dapat mentoleransi terhadap lebih banyak perilaku yang tidak saleh dan kasar.

Ron tidak sendirian. Mungkin Anda juga berada dalam lingkungan yang tidak bersahabat dan sama sekali tidak saleh, baik di tempat kerja, di rumah, atau dimana pun. Jika demikian, apakah yang dapat Anda lakukan?

Ketika kita lemah dan putus asa, Allah yang perkasa menyertai kita. Dia akan memberi kita kekuatan, sukacita dan harapan. Dan menenangkan ketakutan dalam diri kita.

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII

Kamis, 23 Agustus 2012

"Cukup Berbuat Baik"

Setelah melayani Tuhan selama bertahun-tahun, Ibu Lisa memutuskan untuk tidak melayani lagi. Ia kecewa karena gembalanya kurang perhatian, kecewa kepada beberapa pelayan Tuhan yang merasa mampu melakukan segalanya dan tidak menghargai bantuan pelayanan dari umat.
 
Kini Ibu Lisa hanya sibuk mengurus rumah dan berbuat baik. Baginya, ke gereja itu tidak perlu karena ia bisa membaca alkitab sendiri dan berdoa meminta pimpinan Tuhan. Tuhan juga tidak memaksa manusia karena menurutnya selama Tuhan melihat seseorang berbuat baik maka orang tersebut telah melakukan kehendak Tuhan.

Jika kita sibuk berbuat baik saja tetapi kita melalaikan membangun hubungan kita dengan Tuhan maka sia-sialah kebaikan yang telah kita lakukan. Ketika Tuhan menyelamatkan kita, Ia melakukannya bukan karena kebaikan kita, tetapi karena rahmatNya, karena kita mau diperbaharui, menjadi manusia baru didalam Dia.

Melayani Dia bukan sebatas berbuat baik saja, namun kita harus hidup benar dan dipimpin oleh Roh Kudus. Hubungan kita dengan Tuhan harus tetap kita jaga agar kita lebih peka mendengarkanNya. Hidup dengan berbuat baik adalah kehendak Tuhan tetapi mengabaikan melayani Tuhan adalah kesalahan besar.

sumber : Renungan Bulanan Wanita. Surabaya : Maranatha Krista Media. Agustus 2008

Rabu, 22 Agustus 2012

"Pilih Kasih"

Septi membaca dengan seksama segepok surat keprihatinan sejumlah orang tua murid.

"Ibu guru pilih kasih terhadap murid."

Mereka mengangkat kembali keprihatinan dalam rapat bersama untuk menegur perilaku Septi. Mayoritas orang tua murid datang dengan satu tuntutan,

"Perhatian guru harus adil."

Hampir selama satu jam pertemuan Septi mendengarkan keluhan mereka. Ia mencatat pertanyaan penting dan setiap kali orang tua murid selesai bicara, Septi berucap,

"Terima kasih."

Beberapa orang tua murid yang lansia membagikan kearifan hidup kepadanya.

"Guru baik memperhatikan semua anak didiknya tanpa pilih-pilih."

Tersisa beberapa menit bagi Septi untuk menyampaikan hak jawab.

"Setelah mengajar saya menjadi relawati untuk rumah sakit hewan peliharaan. Setiap kali datang, dua belas anjing kecil duduk tenang di sekitar kaki. Saya mengambil seekor anjing dan meletakkannya di pangkuan. Satu kakinya patah. Anjing-anjing lain berlompatan semua ke pelukan. Saya mengelus kepala semua anjing."

Paras seorang murid yang tertatih-tatih menuju kelas terlukis dimatanya.

"Bukankah perhatian pada murid berkebutuhan khusus merupakan tindakan kasih sekolah?"

Betapa berbahagianya jika anak berkebutuhan khusus mendapat kasih dari guru pilihan, yang memberikan kesempatan bagi mereka yang terkadang tak sempat merasakan kasih akibat cibiran sekitar dan perjuangan berat untuk menjadi anak "normal". Kenapa kita gagal mensyukuri untuk menjadi bagian yang tak perlu kasih dan kesempatan berlebih?

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Selasa, 21 Agustus 2012

"Uang Bicara"

Ketika saya mengendarai mobil pulang dari kantor, saya melihat minivan yang dengan bangga ditempeli stiker bemper yang berbunyi : "Uang Bicara, Uangku Bilang Selamat Tinggal." Saya kira banyak orang bisa memahami sentimen seperti itu.

Sebagian besar kehidupan kita dihabiskan untuk mencari dan menghabiskan uang, yang tidak akan bertahan untuk selamanya. Pasar saham anjlok. Harga-harga membubung tinggi. Para pencuri mengambil barang-barang milik orang lain. Benda-benda menjadi usang dan rusak, sehingga menuntut pemasukan dan pengeluaran uang yang semakin banyak untuk yang hilang. Sifat kekayaan materi yang tidak bertahan lama menjadikan uang kurang berguna jika digunakan untuk mendapatkan keamanan di dunia yang tidak aman ini. Uang lebih mudah lepas daripada tetap bertahan dalam gengaman kita.

Tak ada bagian Alkitab yang mengatakan bahwa memiliki uang atau benda yang bisa dibeli dengan uang itu salah. Namun, kita akan tersesat jika uang menjadi tujuan yang menggerakkan hidup kita.

Betapa menyedihkan apabila setelah menghabiskan seluruh hidup ini, kita akhirnya tidak mendapatkan apapun yang bernilai kekal sebagai hasil dari semua jerih payah yang kita lakukan. Jauh lebih baik jika kita kaya di mata Allah, daripada bekerja demi harta yang tidak abadi.

sumber : Renungan Harian. Yogyakarta : Yayasan Gloria. Desember 2006

Kamis, 16 Agustus 2012

"Kunci Doa yang Dijawab"

Berapa seringnya doa-doa yang kita naikkan mentok sampai langit-langit rumah saja, seolah-olah Tuhan berkata? Itu mungkin karena kita berdoa tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mungkin juga karena kita berdoa minta sesuatu yang Tuhan tidak ingin kita miliki.

Mungkin kita berfikir, "Oh, enak dong kalau begitu. Apa yang diinginkan hati saya semuanya dijawab Tuhan. Hati saya ingin menjadi orang kaya, hati saya ingin memiliki mobil dan rumah mewah, hati saya ingin menyekolahkan anak-anak saya keluar negeri." Nah, itulah kesalahan kita. Kita berfikir bahwa doa itu menjadikan Allah melakukan apa yang kita mau. Yang benar adalah doa itu menjadikan kita melakukan apa yang Tuhan mau. Tuhan tahu apa yang dinginkan hati kita karena memang Dia Allah yang Maha Tahu. Doa itu bukanlah kita mengarahkan Tuhan ke jalan kita, tapi seharusnya mengarahkan jalan kita ke jalanNya. Doa tanpa firman adalah doa yang biasa-biasa saja, tidak ada kuasaNya.

sumber : Saat Teduh Harian Pribadi edisi 143/XIII/Juli 2009

Rabu, 15 Agustus 2012

"Memulihkan Gambar Allah"

Semasa kecil, teolog Alister McGrath senang bereksperimen dengan bahan kimia di laboratorium sekolahnya. Ia suka menjatuhkan sekeping uang logam yang kusam ke dalam gelas kimia berisi asam nitrat yang telah diencerkan. Ia sering menggunakan uang logam penny Inggris yang kuno bergambar Ratu Victoria. Karena kotoran yang menumpuk pada uang logam itu, gambar sang ratu menjadi tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun, asam membersihkan kotoran logam itu dan gambar sang ratu pun dapat terlihat kembali dalam keagungannya yang cemerlang.

Jika jiwa kita telah kusam karena dosa tidak dibasuh oleh pengampunan Yesus, gambar Allah akan tampak kabur di dalam kehidupan kita. Namun bila kita mempercayai pengorbanan Yesus di kayu salib, maka kita pun diampuni dan pemulihan itu dimulai.

sumber : Renungan Harian bulan Mei. Yogyakarta : Yayasan Gloria.2004

Selasa, 14 Agustus 2012

"Kekuatan Dua Orang"

Dalam novel karangan G.K Chesterton yang berjudul The Man Who Was Thursday, seorang polisi agen rahasia menyelundupkan ke dalam kelompok pemberokntak yang ingin mengacaukan dunia. Ia diselimuti ketakutan yang luar biasa, sampai akhirnya ia menemukan seorang sekutu didalam kelompok itu.

Chesterton menuliskan perasaan sang polisi ketika menemukan seorang teman, "Dalam semua pencobaan ini, akar ketakutannya adalah kesendirian. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa besarnya perbedaan antara sendirian dan memiliki seorang teman. Para ahli matematika mengatakan bahwa empat orang adalah dua orang ditambah dua orang. Namun bila kita mendapatkan seorang teman, kita bukan sekadar dua orang yang bersatu melainkan bagaikan kesatuan dua ribu orang."

Betapa indahnya hadiah yang kita berikan saat kita dengan setia mendampingi seorang teman yang membutuhkan dukungan. Ada semangat dan kekuatan yang luar biasa saat dua orang bersatu didalam hidup ini. Tangan siapa yang dapat anda kuatkan hari ini dengan menjadi teman baginya? Sahabat sejati menolong anda untuk tetap maju saat anda hendak menyerah.

sumber : Renungan harian bulan Mei. Yogyakarta : Yayasan Gloria 2004

Minggu, 12 Agustus 2012

"Pilihan Jessica"

Saat berjalan menyusuri kawasan perumahan, Jessica terantuk untuk pandangannya pada papan iklan di sebuah halaman rumah.

"Kami menjual anak anjing cantik."

Jessica mendekati seorang lansia yang menyiangi tanaman.

"Saya melihat papan iklan di halaman rumah ibu."

"Saya akan menjualnya kalau kita sepakat dengan harga."

"Saya tertarik," ujar Jessica sambil menyerahkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Brownie!"

Empat anjing cantik berlari menuju arah panggilan. Seekor anjing kecil terseok-seok di urutan terbelakang ditemani induknya.

"Berminat?" tanya pemilik sambil mengelus empat anjing di pangkuannya.

"Saya memilihnya," kata Jessica sambil mengelus anjing yang bersembunyi dalam rengkuhan induknya.

"Mustahil engkau mengingikannya, Anakku. Ia kehilangan kecepatan berlari seperti anjing-anjing lainnya."

Jessica membungkukkan badan, menyisingkan celana panjangnya dan memperlihatkan dua kaki palsunya.

"Ia membutuhkan pribadi sepertiku yang memahaminya."

Ironi kehidupannya, terkadang mereka yang benar-benar menderita dan memerlukan kasih sayang justru terabaikan. Padahal merekalah yang paling harus diperhatikan.

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Jumat, 10 Agustus 2012

"Hatiku, Rumahku"

Saya mengenal seorang wanita yang selalu merapikan rumahnya setiap malam sebelum tidur. Ia melakukan hal ini karena tidak ingin Tuhan melihatnya sebagai pengurus rumah tangga yang buruk seandainya Dia datang kembali sebelum pagi tiba. Sering kali saya berusaha menandingi standar tinggi kerapihan wanita tersebut, tetapi sebagai seorang ibu rumah tangga, seorang istri dan seorang ibu yang masih muda, saya tahu rumah saya tidak akan pernah menang darinya.

Menjaga kebersihan rumah demi kemuliaan Tuhan adalah keinginan yang patut dihargai. Namun akhirnya saya menyadari bahwa sesungguhnya rumah jasmani tempat saya tinggal di dunia ini, tidak menjadi perhatian utamaNya. Dia jauh lebih memperhatikan keadaan rumah tempat Dia berdiam, hati saya.

Ketidaktaatan kepada Allah membuat rumah hati kita menjadi kotor. Sebaliknya, ketaatan yang diungkapkan sebagai wujud kasih kita kepadaNya akan membuat hati kita menjadi rumah yang nyaman bagi Allah sehinggga kita pun siap menyambut kedatangan Kristus.

Hati anda diciptakan untuk menjadi rumah Allah.

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII

Rabu, 08 Agustus 2012

"Garansi Seumur Hidup"

Tiga tahun lalu saya membeli sebuah tas dengan garansi seumur hidup.

"Kami tak peduli siapapun yang merusaknya," kata si pembuat koper.

"Kami akan memperbaiki atau menggantinya secara cuma-cuma."

Seperti janjinya, perusahaan itu telah memperbaiki tas saya sebanyak dua kali. Namun, beberapa minggu yang lalu saya mendengar bahwa perusahaan itu sedang diambang kebangkrutan dan masa depannya diragukan. Jika perusahaan itu mulai diragukan, demikian pula garansi yang diberikannya.

Dalam dunia dimana kita tidak dapat selalu bergantung kepada garansi, ada satu janji yang dapat kita percaya bahwa janji Tuhan untuk menyertai umatNya. Janji penyertaan Allah yang tak berkesudahan menjadi kunci untuk menjalani hidup dengan penuh keyakinan dan kepuasan.

Meski banyak janji yang telah diingkari manusia, janji Allah akan kekal sepanjang masa. Karena Allah itu kekal, Dia dapat memberikan kepada kita garansi yang kekal.

Yang termanis dari semua berkat kehidupan, bersekutu dengan Kristus adalah diatas segalanya, jaminan kehadiranNya, kasihNya yang kekal dan tiada bandingnya.

sumber : Santapan Rohani edisi tahunan VIII

Selasa, 07 Agustus 2012

"Pribadi Ketiga"

Berto mengelap tetesan keringat yang berkerumun di dahi. Orang tuanya entah berapa lama berbicara serius dengan Jenny, tunangannya.

"Apakah bijak mereka masih mengorek pribadi Jenny di malam persiapan pernikahan?" ujar Berto sambil menggigit pelan bibir bawahnya.
Berto mengira orang tuanya lebih dewasa dalam bertutur kata dengan tunangannya.
"Papa dana mama terlalu jauh turut campur dalam hubungan kami."

Sampai menjelang subuh Berto mendengarkan keluh kesah Jenny.

Tissue berserakan dan Jenny berbicara dengan banyak sela air mata.

"Apakah demikian sikap orang tuamu terhadap setiap calon menantunya?"

Berto menyembunyikan Jenny dalam rengkuhannya.
"Pernikahan besok berlangsung antara engkau dan aku."

Akhirnya Jenny tertidur dalam pelukannya. Jenny berjalan gemetar menuju altar. Pembicaraan semalam dengan mertua masih menempel dalam benaknya. Langkahnya setengah limbung.

Berto sempat meminta izin pastor.
"Apakah diperkenankan berjalan bersamanya daripada menunggunya di depan altar?"
Saat tepuk tangan hadirin mengiringi langkah keduanya keluar gereja, Jenny berbisik
"Kita memasuki gereja berdua. Kita keluar gereja bertiga. Engkau, Aku, Tuhan."

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Sabtu, 04 Agustus 2012

"Mempratikkan Kasih"

Dalam bukunya Christian in the Marketplace, Bill Hybels mengatakan bahwa orang yang tidak beriman sering berkata, "Tunjukkan kepada saya." sebelum berkata, "Ceritakan kepada saya."

Saya kenal seorang pemuda bernama Wolfgang di Jerman yang menerapkan prinsip Hybels di lokasi bangunan tempat ia berkerja. Sebagai orang percaya yang penuh semangat, Wolfgang selalu membaca Alkitab selama jam makan siangnya. Meskipun rekan-rekan sekerjanya mengolok-olok, ia tetap membaca Alkitab setiap hari. Ia berdoa semata-mata agar menemukan cara menunjukkan kasih Kristus kepada mereka.

Sepulang kerja pada malam hari, para pekerja selalu meninggalkan sepatu bot mereka yang berlumpur. Wolfgang pulang lebih lambat untuk membersihkan semua sepatu bot mereka. Mulanya mereka bingung, namun mereka segera sadar bahwa Wolfgang adalah satu-satunya orang diantara mereka yang bersedia melayani dengan rendah hati. Akhirnya mereka tidak hanya menghormatinya, tetapi bahkan terkadang memintanya untuk membacakan Alkitab bagi mereka. Hanya kekekalan yang akan memperlihatkan pengaruh seutuhnya dari kehidupan Wolfgang yang bercahaya.

Jika anda rindu untuk membawa orang-orang disekitar anda kepada Yesus, pancarkan kasihNya dengan melakukan perbuatan demi memuliakan Allah semata.

Kehidupan kristiani adalah jendela tempat orang dapat melihat Yesus.

sumber : Renungan harian Mei 2004. Yogyakarta : Yayasan Gloria

Kamis, 02 Agustus 2012

"Nada Kasih"

Teresa Calcutta menuju podium beralas sandal dan kaos kaki ditengah cuaca dingin. Ia menyitir sabda Kitab suci, "Yang engkau kerjakan untuk salah seorang terkecil ini engkau melakukannya untukKu."

"Aborsi merupakan perang terhadap anak dan saya menolak penjagalan hidup anak-anak tak bersalah oleh ibu kandungnya. Jika kita menerima seorang ibu dapat membunuh bahkan anaknya sendiri, bagaimana kita dapat berbicara kepada orang lain untuk tidak saling membunuh?"

"Negara mana pun yang menerima aborsi tidak mengajarkan rakyatnya untuk hidup saling mengasihi, melainkan menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keinginan mereka."

"Aborsi merupakan perusak kasih dan perdamaian terbesar."

Hillary Clinton termasuk diantara hadirin yang sulit menutupi perubahan raut wajahnya saat mendengnarkan pernyataan Teresa. Beberapa waktu kemudian ia menyingkap kebekuan parasnya yang tertangkap media.

"Ibu Teresa sungguh-sungguh berbicara dari hati ke hati dengan saya. Ia membawa isunya sedemikian dekat sehingga terasa sebagai tamparan."

"Meskipun berseberangan pandangan tentang hak perempuan dalan aborsi, Ibu Teresa senantiasa berbicara kepadaku dengan nada kasih."

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009