Sabtu, 23 Agustus 2014

Jalan Berliku



Tak mudah ternyata untuk menjadi pelayanNya. Terkadang serasa berat dan hendak menyerah. Di caci maki, direndahkan, dibentak-bentak menjadi santapanku sehari-hari.

Di saat serasa berat dan hendak menyerah, berusaha mencari pekerjaan lain tapi berat untuk meninggalkan rumahNya. Saat mengikuti suatu acara yang diselenggarakan KAJ, disitu dijelaskan uang Gereja = uang umat = uang Allah. Uang yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya karena Tuhan mempercayakannya kepada kita.

Hal itu yang selalu aku pegang dalam menjalankan pelayananku. Walaupun terkadang tak ada dukungan, sepi sendiri serasa tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pelayanan terbaikku. Mungkin memang Dia yang memilih aku.

Pernah aku memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena aku merasa gagal dalam pelayananku. Tak ada lagi dukungan dari orang-orang di sekitar pekerjaanku. Aku lelah dengan tekanan yang ada. Memang aku hanya pelayan yang kecil diantara orang-orang besar, aku tak ingin dipandang, dihormati maupun dihargai namun yang aku butuhkan adalah dukungan orang-orang sekerja dalam pelayanan ini.

Ketika memutuskan untuk keluar, tak ada yang peduli dengan kepergianku. Mereka langsung cari penggantiku tanpa bertanya mengapa. Hanya sedikit orang yang berminat melamar di rumahNya, upah yang mereka minta pun sangat tinggi. Aku pun menemui Pastor Kepala untuk mengundurkan diri, airmata tak tertahankan ketika beliau menanyakan alasanku keluar. Dia memahaminya dan memintaku untuk tidak pergi. Dia paham bebanku. Dua bulan berselang, atasanku pun memanggil aku dan berbicara dari hati ke hati. Beliau pun memberikan waktu aku untuk memutuskan apakah mau tetap tinggal atau tetap di tempat kerja yang baru.

Dalam doa, aku meminta kepadaNya untuk menunjukkan jalan yang terbaik bagiku. Akhirnya aku pun mengambil keputusan untuk kembali ke rumahNya. Walau keluarga dan orang yang ku kasihi kurang setuju namun aku tetap pada pendirianku.

Jalan salib memang penuh liku, aku yakin Tuhan mempunyai tujuan atas semua ini, semua yang terjadi padaku adalah ujian dariNya. Entah sampai kapan aku akan bertahan dan tetap kuat menerjang badai ini, yang aku yakini adalah Tuhan takkan membiarkanku sendiri.

Jumat, 01 Agustus 2014

Dipanggil Menjadi Pelayannya

Menjadi pelayan di rumahNya?Tak pernah aku bermimpi untuk itu. Saat membaca lembaran Nafiri tak sengaja aku membaca ada lowongan. Yah aku sebenarnya sudah lama ingin keluar dari pekerjaanku. Bukan karena gaji kurang besar tapi kebebasanku untuk beribadah serasa dikekang.

Iseng-iseng aku mencoba melamar di Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi. Kala itu aku tak tahu posisi apa itu. Tapi aku cuma berharap dapat bekerja dan beribadah dengan tenang. Dua bulan tak ada panggilan serasa putus asa dan tak mungkin rasanya aku diterima disana. Sampai pada puncak kejenuhanku pada kantor lamaku, aku memutuskan untuk keluar walaupun saat itu aku belum dapat kerja yang baru padahal aku masih harus membantu biaya kuliah adikku saat itu.

Tapi aku yakin Tuhan tak akan membiarkanku, hingga suatu saat akhirnya aku mendapat panggilan dari Gereja. Agak minder sih karena sainganku kebanyakan D3 dan S1 sedangkan aku hanya D1. Walaupun gaji yang ditawarkan tidaklah seperti di kantorku yang lama, tapi aku yakin Tuhan akan selalu mencukupkan segala kebutuhanku. Dalam hati aku berdoa, kalau aku diterima menjadi pelayanNya akan ku persembahkan seluruh tenaga dan waktuku ini hanya untukNya.

Dua minggu berselang tak ada panggilan, sepertinya aku tidak diterima karena pastinya banyak yang lebih pandai dari aku. Aku mencoba mencari pekerjaan lain, namun sore itu aku menerima telpon bahwa aku diminta kembali untuk datang ke Gereja. Sangat girang hatiku. Sesampainya di sana ternyata akulah yang diterima. Ternyata Tuhan menjawab doaku. Tentang gaji bukanlah menjadi soal, yang terpenting aku bisa melayaniNya lebih dekat lagi.Tanggal 13 November 2010, pertama kalinya aku berkarya di Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi bersama Sr. Euphrasia, KSFL yang baru datang dari Medan untuk menggantikan Sr. Maria Goretti, KSFL.

Mungkin inilah cara Tuhan untuk memanggil aku, tak pernah ku sangka sebelumnya aku dapat bekerja di ladangNya. Terima kasih Tuhan atas kebaikanMu....

Sabtu, 23 November 2013

Ketulusan Burung Merpati


  1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah TIDAK. PAsangannya cukup satu seumur hidupnya.
  2. Merpati adalah burung yang tahu ke mana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah TIDAK.
  3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantanbertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya adalah TIDAK.
  4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah TIDAK.
  5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan kepahitan sehingga tidak menyimpan dendam sahabat.
Jika seekor merpati bisa melakukan hal-hal diatas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi dan menghargai. Mari kita selalu bersyukur apapun yang kita peroleh.


Kiriman : Samuel







Minggu, 19 Mei 2013

"Namanya Yesus"

Alkisah Lucifer, biangnya setan sedang melakukan penataran dan training kepada setan muda yang ada didalam neraka. Dalam pelatihan tersebut Lucifer memberikan wejangan kepada setan muda rekrutmen baru.

"Kita harus mampu menggoda anak manusia dengan segala tipu daya agar bisa menjerumuskan manusia ke dalam neraka," ungkap Lucifer dengan berapi-api.

Pidato tersebut membangkitkan semangat dan inspirasi setan muda. Dengan penuh semangat dan dedikasi, ia pergi ke bumi untuk menggoda manusia. Sepulang dari bumi, ia menangis dihadapan Lucifer.

"Kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Lucifer.

"Saya telah menggoda seorang anak manusia dengan seorang wanita cantik tapi ia tidak goyah juga imannya," ujar setan muda tersebut.

 "Sudah jangan menangis. Sekarang goda dia dengan harta dunia yang melimpah, biasanya umat manusia akan goyah dan jadi pengikutku," ungkap Lucifer kepada setan muda tersebut.

Mendengar saran tersebut setan muda tersebut menjadi semangatnya berapi-api kembali. Ia pun segera ke bumi untuk menjalankan misinya.

Tapi misinya itu gagal dan setan muda itu sambil menangis menghadap Lucifer dan menceritakan kegagalannya. Lucifer pun menjadi marah dan panas hatinya.

"Hai, setan muda, coba kau tunjukkan kepadaku siapa nama manusia itu. Biar aku yang akan tangani langsung," ujar Lucifer.

Dengan teriak isak setan muda itupun berkata,

"Kata orang-orang sih. Namanya Yesus Kristus."

Lucifer pun menghela nafas, "Pantes nggak mempan."

Godaan didunia ini sangat banyak. Apabila kita tidak bertahan maka dengan mudah terjatuh. Beribu-ribu tawaran dunia datang kepada kita. Pertanyaannya adalah apa yang kita cari dari tawaran itu? Apakah kita mengutamakan tawaran menarik dunia? Atau kita taat kepada Tuhan Yesus sendiri? Sekali kita tidak bisa mengendalikan diri terhadap berbagai tawaran dunia yang menarik, maka kita akan jatuh dan sangat sulit lagi untuk bangun.


sumber : I Made Markus Suma, Pr.,Lic.Th.SS & Andreas Rudiyanto, Lic.Th.SS. Dan Yesus pun Tersenyum. Yogyakarta : Chivita Books. 2013

Rabu, 15 Mei 2013

"Tanda dari Surga"

Sore itu Astuti termenung memandangi sisa-sisa titik hujan yang menetes dari pepohonan didepan ruang kerjanya. Kata-kata Bu Warni yang seminggu lalu dikunjunginya masih terngiang ditelinganya, "Apabila seorang wanita mencintai, cintanya akan utuh dan sebening kaca." Dia ragu apakah ia pernah sungguh mengalami jatuh cinta. Atau barangkali dia memang takut untuk jatuh cinta karena takut apabila cinta yang sebening kaca itu akan jatuh dan pecah berkeping, sulit untuk menjadi utuh kembali.

"Tidak baik sore-sore melamun. Nanti kemasukan roh gentayangan!" tiba-tiba ada suara dibelakangnya. Astuti terkejut dan menoleh.

"Ah, Dokter Stefan, Anda mengejutkan saya. Ada apa, Dok?"

"Tidak apa-apa, saya hanya ingin minta tolong ke kamu untuk menganalisis hasil laboratorium ini. Saya curiga bahwa demam berdarah mulai berjangkit lagi di daerah ini."

Astuti mengambil bekas dari tangan dokter yang sudah separuh baya itu.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Dokter Stefan. Astuti masih sibuk mempelajari hasil laboratorium itu.

"Sepertinya memang positif demam berdarah, Dok," sahutnya.

"Berarti sebentar lagi rumah sakit kita ini akan dibanjiri pasien. Apakah kita punya cukup persediaan darah?" tanya Dokter Stefan dengan nada khawatir. Astuti menggelengkan kepala.

"Saya belum memeriksanya, Dok. Nanti saya cek." Dokter Stefan kemudian bangkit dan meninggalkan ruang kerja Astuti.

"Sampai nanti As," katanya pendek sambil berlalu. Astuti memandangi bayangan lelaki itu hilang di balik pintu. Sudah cukup lama Astuti mengenal Dokter Stefan. Dia seorang dokter yang menghayati profesinya sungguh-sungguh sebagai suatu panggilan suci. Astuti pernah mendengar bahwa Dokter Stefan dulunya pernah masuk seminari untuk menjadi imam, tetapi karena ayahnya tiba-tiba meninggal sementara adik-adiknya masih kecil. Maka itu, ia memutuskan untuk keluar dan berjuang keras sampai bisa menjadi seorang dokter. Satu persatu adiknya disekolahkannya sampai selesai. Mereka semua sudah berkeluarga, hanya Dokter Stefan sendiri yang belum. Sepertinya ia bahkan tidak berfikir sama sekali tentang hal itu. Hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk mencari jalan bagaimana bisa membantu meringankan beban orang miskin yang jatuh sakit dan tidak mampu membayar biaya pengobatan yang makin mahal.

Kita sering mendapat kesan bahwa orang-orang Farisi itu adalah orang-orang berhati jahat, padahal mereka adalah orang-orang yang cukup serius mencari kebenaran dalam hidup mereka. Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa mereka terlalu percaya pada kemampuan intelektual mereka untuk memahami kebenaran. Mereka tidak cukup rendah hati untuk mengakui bahwa keagungan Allah tidak bisa didalam tempurung kepala mereka yang kecil.

Iman bukanlah suatu harga mati, sekali percaya akan tetap percaya. Tidak demikian! Iman harus diperbaharui dengan keputusan untuk beriman setiap hari. Kalau tidak, selalu ada bahaya bahwa lama kelamaan iman itu sendiri akan luntur atau hanya akan tinggal di kepala, tidak di hati dan tidak pada tindakan nyata.


sumber : B.B Triatmoko, SJ. Dokter Astuti. Yogyakarta : Kanisius. 2009

Sabtu, 04 Mei 2013

"Dahulukan Allah"

Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam.

Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi. Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar diatas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini :

"Berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggallah tetap fokus."

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa diantara kakinya, siap-siap mematuknya, jadi dia turunkan lebih kebawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu. Tetapi, suara itu masih berkata, "Aku bilang berdoalah dulu, bidik keatas itu lepas dan tinggallah tetap fokus."

Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi keatas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali.

Dan ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental kedalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya ia dapatkan banyak ikan didalam semua kantungnya, seekor rusa dan seekor kalkun untuk makanannya.

Berdoalah sebelum kita lakukan apapun dan arahkanlah keatas pada tujuanmu dan tinggallah terpusat pada Allah. Jangan kamu dikecilhatikan oleh siapapun mengenai masa lampau kita. Masa lampau itu memang tepatnya begitu. "Sudah lewat, sudah lampau." Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Allah yang tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.


sumber : I Made Markus Suma, Pr., Lic.Th.,SS & Andreas Rudiyanto, Lic.Th, SS. Dan Yesus pun Tersenyum. Yogyakarta : Chivita Book. 2013

Jumat, 03 Mei 2013

"Bunga Matahari"

"... kenangan atas iman yang dihidupi tidak akan pernah layu ditelan kematian di bumi... "

"Januari kelabu," kataku dengan hati pilu. Oasis Lesta, tempat kremsi, merupakan saksi atas peristiwa kebakaran rumah yang menelan tiga nyawa dalam sekejap. Kebakaran diakibatkan charging handphone terlalu lama yang menimbulkan ledakan. Ledakan itu membakar rumah mereka pada saat mereka sedang terlelap. Rumah tersebut dihuni oleh tiga keluarga yang sedarah. Seorang ibu berusia 30 tahun meninggal dunia seketika karena kondisinya sangat lemah sehingga tidak mampu menyeberangi kobran sang jago merah. Ibu itu baru saja melahirkan banyinya 26 hari sebelumnya. Suaminya berhasil membawa bayinya keluar dari perangkap api sehingga selamat tanpa cacat walaupun tubuhnya sendiri dipenuhi dengan luka bakar yang mengerikan. Keponakannya yang baru berusia beberapa tahun juga mengikuti kepergiannya. Kepergiannya mengenaskan menimbulkan empati banyak orang sehingga kremasi tubuhnya diiringi ratap tangis yang menggetarkan jiwa. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menopangkan tanganku diatas kepala para anggota keluarga yang sdang dirundung nestapa didepan dua peti jenazah orang-orang tercinta.

Ketika airmata kesedihan belum kering dengan peristiwa kematian yang mengharukan, 1 minggu kemudian terdengar berita dukacita lagi tentang kematian kakaknya. Ia dan suaminya berusaha menyelamatkan keponakannya (yang telah meninggal sebelumnya) dari gansnya api dengan menggunakan tubuh mereka sebagai tameng. Beratnya luka bakar telah mengambil hidupnya dalam usia 32 tahun, sedangkan suaminya masih terbaring lemah di rumah sakit menantikan mukjizat penyembuhan Tuhan. Keponakannya  itu telah diasuhnya menjadi anaknya sendiri karena adiknya menderita kanker otak yang melumpuhkan kedua kakinya dan istrinya bekerja di Taiwan. Adiknya itu telah diselamatkan Tuhan secara ajaib.

Sambil menunggu proses kremasi, aku duduk disamping ibu mereka yang baru saja kehilangan kedua anak dan satu cucunya. Pada saat musibah itu, ibu tersebut berada di rumah anak-anaknya karena membantu megurus cucunya yang baru lahir. Ia juga tidak mengalami luka sedikitpun dalam peristiwa itu. Wajahnya tampak lebih tegar daripada seminggu sebelumnya walaupun hatinya hancur berkeping-keping. Ia mampu mengungkapkan imannya dengan kata-kata indah :

"Romo, aku sudah tidak dapat menangis lagi karena airmataku telah habis. Aku tidak berani lagi bertanya kepada Tuhan mengapa Ia membiarkan musibah ini terjadi. Namun, ditengah kedukaan ini, ada kebanggaan dihati. Sebelum mereka pergi menghadap Yang Ilahi, mereka saling melindungi dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Itulah bukti kasih yang membuat pengorbananku berarti."

Aku sendiri tidak mengerti rencana Tuhan dengan tragedi ini. Pertanyaan datang bertubi-tubi kedalam sanubari :
"Mengapa Tuhan tega mengambil kehidupan 3 orang yang baik dan masih belum lama menghuni bumi ini? Kedua ibu itu aktif dalam kegiatan rohani. Sang anak masih lucu dan suci?"

Jawaban dalam diriku adalah alasan apa pun, aku tidak dapat mengertinya. Kenangan atas kematian mereka akan menjadikan banyak manusia bagaikan bunga-bunga matahari yang mengikuti jalannya matahari dari terbit sampai terbenamnya menuju persekutuan dengan Sang Matahari Sejati, yaitu Allah sendiri. Marilah kita jalani hidup ini dengan mengikuti pancaran Tuhan sehingga kenangan atas iman yang dihidupi tidak akan pernah layu ditelan kematian di bumi, tetapi justru pancarannya menarik banyak orang untuk hidup didalam jalan Tuhan.


sumber : Felix Supranto, SS.CC. Jangan Galau! Allah Peduli. Jakarta : Penerbit OBOR 2013

Senin, 29 April 2013

"Hidup dengan Rasa Bersalah"

Seorang anak laki-laki kecil tanpa sengaja merusakkan raket milik ayahnya. Karena takut, ia menyembunyikan raket itu dibawah tempat tidur dalam kamarnya. Setiap kali ayahnya memasuki kamar, hatinya ketakutan. Ia sengaja duduk diatas tempat tidur, khawatir sang ayah mengangkat tempat tidur kemudian menemukan raket yang ia rusakkan.
Karena itulah ia selalu berusaha memondahkan raket yang ia rusakan ke tempat lain sesering ia mampu dengan harapan sang ayah tidak akan dapat menemukannya.

Sejauh ini semuanya selalu bisa diatasi dengan baik. Kesalahannya tetap tertutup rapat-rapat didepan ayahnya. Namun, selama itu pula hatinya tidak tenang. Setiap saat rasa bersalahnya muncul dan menghakiminya. Kemanapun ia pergi, hatinya selalu tertuju kepada raket sang ayah yang pernah ia rusakkan.

Rasa bersalah senantiasa membuat pelakunya tidak tenang. Rasa bersalah adalah penghakiman yang paling kuat dari kedalaman diri kita terhadap hal yang pernah kita lakukan. Hidup dengan rasa bersalah yang dipelihara hanya akan melahirkan penderitaan dan kesusahan. Namun, hidup tanpa rasa bersalah juga akan membuat kita tidak terkontrol dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Oleh karena itu buatlah keseimbangan dengan bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan.


sumber : Imanuel Kristo. Momen Inspirasi 3. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012

Rabu, 24 April 2013

"Cinta Selalu Ada"

"Berkat Tuhan yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahnya"

Seorang ibu keluar dari rumahnya dan melihat tiga kakek berjanggut putih panjang tak dikenal duduk di pekarangan rumahnya. Ibu itu berkata, "Rasanya saya tidak kenal saudara. Apakah saudara lapar? Silahkan masuk, akan saya buatkan minuman dan sedikit makanan."

"Apakah suami ibu ada didalam rumah?" Tanya seorang diantara ketiga kakek.

"Tidak. Dia sedang pergi." Jawab ibu itu.

"Kalau begitu kami tak bisa masuk." Sahut mereka.

Dimalam hari ketika suaminya pulang, ibu itu lalu menceritakan peristiwa yang tadi siang dialaminya.

"Bilang pada mereka, saya ada di rumah dan mengundang mereka bertiga masuk." Kata si suami. Ibu itu keluar dan mengundang mereka masuk.

"Kami tidak masuk ke rumah bersama-sama." Jawab mereka.

"Mengapa begitu?" Tanya ibu penasaran.

Salah satu kakek menjelaskan, "Dia bernama kekayaan." Sambil menunjuk salah satu temannya. "Sedang yang itu bernama sukses dan saya sendiri bernama cinta." Kakek itu menambahkan, "Sekarang masuklah kedalam rumah dan diskusikan dengan suami ibu, yang mana yang dipilih terlebih dahulu untuk masuk ke rumah anda."

Ibu itu masuk dan menceritakan kepada suaminya apa yang diminta ketiga kakek tersebut. Suaminya sangat senang. "Bagus sekali, karena mintanya begitu, kita undang kekayaan saja. Biar dia masuk dan mengisi rumah kita dengan kekayaan."

Istrinya tidak setuju, "Sayangku, mengapa kita tidak mengundang si kakek sukses saja?" Menantu mereka yang ikut mendengarkan dan duduk disudut ruang keluarga mengajukan usul, "Apakah tidak lebih baik kita mengundang kakek cinta saja? Rumah kita akan dipenuhi dengan cinta!" katanya.

"Kita penuhi saja permintaan menantu kita." Kata suami kepada istrinya. "Cepat keluar dan undang cinta kedalam sebagai tamu kita."

Ibu itu keluar dan bertanya kepada ketiga kakek itu, "Yang mana yang bernama cinta? Mari masuk dan menjadi tamu kami."

Cinta berdiri dan mulai berjalan kedalam rumah. Dua kakek lainnya ikut berdiri dan mengikutinya. Karena kaget, si ibu lalu bertanya kepada kekayaan dan sukses, "Saya hanya mengundang cinta, mengapa kalian ikut masuk?"

Ketiga kakek itu menjawab serentak, "Jika anda mengundang kekayaan atau sukses, dua diantara kami harus diluar. Tapi karena anda mengundang cinta, kemanapun dia pergi, kami selalu mengikutinya. Dimana ada cinta, disitu ada kekayaan dan sukses."

"Dimana ada penderitaan, kami mendoakan damai dan kemurahan hati. Dimana adda keraguan diri, kami mendoakan pembaharuan percaya diri akan kemampuan untuk mengatasi. Dimana ada kelelahan atau keletihan, kami mendoakan pengertian, kesabaran dan pembaharuan kekuatan. Dimana ada rasa takut, kami mendoakan cinta dan keberanian."

Jika anda sebagai salah satu keluarga ibu tadi, siapa yang anda pikirkan pertama kali untuk diundang? Pasti mudah ditebak, anda akan memilih kekayaan? Itu sama dengan pikiran saya. Mulai hari ini, mari kita perbanyak cinta dalam hidup pergaulan keseharian kita, dalam keluarga dirumah, diantara tetangga, diantara teman sekolah, diantara teman kerja. Seperti Yesus, begitu cintanya kepada kita sehingga merelakan dirinya disiksa dan disalib di Golgota hanya untuk menebus dosa manusia.


sumber : J. Felicianus. Yesus Menjawab Emailku. Yogyakarta : Pustaka Marwa. 2006

Senin, 22 April 2013

"Hidup Bahagia"

Hidup bahagia merupakan dambaan banyak orang, tetapi tidak banyak orang bisa mendapatkannya. Padahal, asal kita bersedia melakukan hal yang seharusnya kita lakukan, kebahagiaan akan segera menjadi milik kita selama kita hidup. Bagaimana caranya?

Jawabannya sebenarnya sangat mudah, hanya dengan menanyakan empat pertanyaan berikut dan melakukannya setiap hari. Buatlah satu kebiasaan baru. Setiap bangun tidur pagi hari, tulislah jawaban dari empat pertanyaan ini. Kumpulkan jawabannya dari hari ke hari. Anda kan terkejut melihat perubahan yang terjadi. Anda akan menemukan sesuatu yang sudah hilang, yaitu hidup bermakna yang akan membuat anda bahagia.

Pertanyaa itu adalah :

  1. Bagaimana anda akan hidup hari ini apabila anda tahu ini adalah hari terakhir anda hidup?
  2. Apa yang harus anda syukuri dalam hidup yang akan anda tinggalkan ini?
  3. Apa yang anda perbuat hari ini supaya hidup anda semakin bermakna?
  4. Apa yang akan anda lakukan untuk menambah kebahagiaan pada saat terakhir hidup anda ini?
Tidak sulit, bukan? Sebenarnya rumus hidup bahagia sangat sederhana. Saat kita memberikan hal terbaik kepada orang lain, kita akan merasa hidup kita lebih bermakna, itulah awal kebahagiaan. Jika anda sudah memulai, mengapa tidak melanjutkannya sampai kita merasa hidup kita semakin bermakna bagi keluarga, sesama dan Tuhan?

Layanilah orang lain dengan setia. Sewaktu kita memberi kepada orang lain, itulah awal kebahagiaan kita. Mulailah mengambil langkah sederhana dan mudah ini. Lakukanlah hal itu setiap hari dan temukanlah hidup baru yang indah dan positif.


sumber : Andreas Nawawi. Momen Inspirasi. Yogyakarta : Penerbit ANDI. 2012

Jumat, 12 April 2013

"Dahsyatnya Sebuah Senyuman"

Aku mengalami banyak kesulitan keuangan. Orang tuaku tak mampu lagi membiayai penyelesaian kuliahku. Aku menjadi pemurung dan menganggap nasibku paling sial di dunia ini. Aku terpaksa mengambil kuliah sambil bekerja susah payah sebagai kasir di suatu toko. Suatu hari datanglah pasangan setengah baya masuk bersama seorang gadis kecil di kursi roda. Waktu aku amati lebih dekat, gadis itu ternyata tak punya tangan dan kaki. Waktu pasangan itu selesai belanja dan datang padaku membayar, aku menatap gadis di kursi roda dan ia memberikan senyuman paling manis dan mempesona yang pernah kualami. Senyuman manis dan hangat itu meluluhkan semua bebanku.

Prof. James V. McConnell seorang psikolog di Universitas Michidan mengatakan, 

"Orang yang tersenyum cenderung mampu mengatasi, mengajar dan menjual dengan lebih efektif serta mampu membesarkan anak-anak yang lebih bahagia. Ada lebih banyak informasi tentang senyuman daripada sebuah kerut dikening. Karena senyum itulah yang mendorong semangat, alat pengajar yang efektif daripada hukuman." 

Jelasnya, ketika kita tersenyum, kita sangat bisa menjadi berkat dan membuka persahabatan sejati dengan semakin banyak orang.

Teman baik harus bergandengan tangan, tapi teman sejati tak perlu berpegangan tangan karena mereka tahu bahwa tangan yang lain selalu ada disana. Sssstttt, sudah tersenyum belum hari ini? Mulai hari ini, mari kita belajar berbagi "PAMAN dan TEMAN" (PAkailah senyuMAN dan TEbarkanlah iMAN)

sumber : Jost Kokoh, Pr. XXX Family Way. Yogyakarta : Kanisius 2009

Jumat, 29 Maret 2013

"Cinta yang Luar Biasa"

Sore itu, Kamis (28/03) aku ikut misa Kamis Putih jam 16.00di Paroki St. Arnoldus yang dipimpin oleh Rm. Anselmus Selvus, SVD. Aku sangat tertarik dengan homilinya, beliau berkata bahwa banyak orang yang pada tanggal 14 Februari merayakan hari kasih sayang tetapi bagi kita umat katolik hari kasih sayang itu adalah pada perayaan Kamis Putih. Kenapa? Karena dihari itu Tuhan telah memberikan seluruh diriNya untuk kita. CintaNya tidak diungkapkan dengan kata-kata yang indah ataupun puisi yang romantis tapi dengan tindakan nyata dengan wafat disalib. Kita diajak untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada Tuhan dengan tindakan yang nyata pula, dengan turut mengambil bagian dalam perayaan ekaristi misalnya. Banyak terdapat puji syukur namun yang memanfaatkannya sedikit, banyak yang dalam perayaan ekaristi tidak turut serta memuji dan memuliakan Tuhan.

Contoh tindakan nyata lainnya dilingkungan misalnya, Rm. Ansel mengajak kita untuk mengumpulkan yang sisa. Maksudnya adalah uang receh, kecil memang namun kalau setiap keluarga mengumpulkan dari yang sisa itu akan banyak warga kita yang tidak mampu sekolah dapat kita bantu. Dengan semangat mari berbagi, kita diharapkan menunjukkan rasa cinta kita kepada Tuhan melalui sesama. Semakin beriman maka akan semakin bersaudara dan berbelarasa. Perbuatan yang kecil sekalipun tapi sangat berarti untuk saudara kita yang membutuhkan. Sangat menyentuh homili Rm. Ansel bagiku. Semoga banyak orang yang mau memulai kebiasaan baik ini. Kita diutus untuk berbagi, Tuhan telah menunjukkan cintaNya yang sangat luar biasa kepada kita, Dia selalu merangkul kita sekalipun kita sering jatuh kedalam dosa. Sekarang giliran kita menunjukkan rasa cinta kita kepadaNya melalui sesama....

Sabtu, 23 Maret 2013

"Kejahatan Luar BIasa"

"Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita dan bangsa kita." (Yoh 11 : 48)

Kaum Farisi dan imam-imam kepala adalah termasuk golongan 'elite', tokoh dan pemuka agama Yahudi yang sangat berpengaruh. Sedangkan imam kepala adalah anggota 'dewan terhormat' pada Mahkamah Agama.

Yesus pernah mengecam kelompok ini, karena mereka itu mengharuskan orang lain mentaati Taurat dan adat istiadat, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka iri hati, sakit hati, benci dan memusuhi Yesus. Puncaknya adalah mereka membuat rekayasa, dengan berdalih karena alasan politik dan agama, demi untuk menyelamatkan bangsa dan tempat suci dari penajajah Roma maka Yesus harus ditangkap dan dibunuh.

Didalam masyarakat kita saat ini agaknya ada juga kelompok umat beragama yang cenderung memahami, menghayati dan mewujudkan kehidupan agamanya tidak utuh dan seimbang. Hal ini dapat melahirkan sikap dan perilaku yang sempit, fanatik, fundamental, raikal, sektarian dan ekslusif. Berlawanan dengan penghayatan iman yang inklusif, terbuka, moderat, toleran, menerima perbedaan, menghargai dan menghormati serta mencintai orang, kelompok, golongan lain tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Sikap seperti inilah yang perlu ditumbuhkembangkan dalam masyarakat kita yang majemuk dan pluralis, terdiri dari banyak suku, agama, ras dan golongan.

Masyarakat kita sekarang sangat mendambakan dan membutuhkan adanya teladan dan panutan dari para 'elite' tokoh dan pemuka kelompok umat beragama yang dapat mengajak jemaat/penganutnya, menjalankan kehidupan agamanya sehari-hari, selalu membawa rahmat dan kasih sayang, damai sejahtera bagi semua orang.

Apakah dalam penghayatan dan perwujudan iman sehari-hari, kita kerap kali juga tergoda untuk bersikap iri hati, benci dan memusuhi orang-orang yang tidak kita sukai dan hanya berbuat sesuatu hanya karena ingin dipuji, dihormati dan dilihat orang lain?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Jumat, 22 Maret 2013

"Iman dan Pengharapan adalah Dasar Kasih yang Nyata"

"Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa didalam Aku dan Aku didalam Bapa." 
(Yoh 10 : 37 - 38)


Segala sesuatu tentunya direncanakan dengan baik dan kemudian baru dikerjakan. Itulah kunci sebuah keberhasilan. Kita semua telah tahu bahwa modal satu-satunya bukanlah uang saja, tetapi ada banyak bentuk dan wujud dari modal. Hal-hal tersebut diatas dapat membuat seseorang bisa maju dan besar dalam usaha. Kita pun sebagai warga Gereja, pengikut Krisus juga bisa menjadi maju dan besar dalam usaha kita. Dalam hal ini, usaha kita adalah memiliki dan membagikan kasih kita kepada sesama.  Kita akan bisa maju dalam kasih hanya bila kita kepada sesama. Kita akan bisa maju dalam kasih hanya bila kita mempunyai iman yang kuat dan pengharapan yang mantap.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus telah menunjukkan bahwa hartaNya adalah kasih kepada sesama. Mengapa demikian? Sebab Yesus selalu berbuat sesuatu yang mendatangkan kebaikan kepada sesama.Kita pun wajib menjaga iman kita, bahwa bila kita menolong sesama sebisa kita demi kebaikannya, kita pantas berharap bahwa sesama kita juga akan menjadi lebih baik seperti harapan kita.

Semoga kita semakin tekun dalam berbuat baik demi keselamatan dan kesejahteraan sesama. Sebab kita yakin, bahwa berkat Tuhan akan memperbesar iman dan harapan kita sehingga kita dipenuhi sukacita karena kita boleh menjadi saluran kasih Tuhan.

Apakah usahaku dalam mengasihi sesama telah aku wujudkan dalam tindakan menolong sesama??


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Kamis, 21 Maret 2013

"Sukacita Diberikan Allah kepada yang Melakukan KehendakNya"

"Aku berkata kepadamu : sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." 
(Yohanes 8 : 51)

Kebahagiaan merupakan suatu hal yang didambakan, dicari dan diusahakan setiap orang. Tiap-tiap orang  pasti menghendaki agar semua anggota keluarganya dalam kebahagiaan. Jalan menuju kebahagiaan telah ditunjukkan oleh Tuhan kepada kita yaitu dengan mendengarkan dan melaksanakan apa yang menjadi kehendakNya. Kita semestinya menaruh kepercayaan kepada Yesus sebab Yesus telah ada jauh sebelum Abraham ada.

Maut dan hidup sebenarnya telah bisa kita alami ketika kita masih hidup didunia kita ini. Kita akan hidup bila kita mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Demikian juga maut sebenernya telah kita alami semasih kita tidak mau lagi melaksanakan kehendakNya.

Keselamatan akan kita dapatkan yaitu bila kita menghargai dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sungguh, bila kita mampu menghargai waktu maka kitapun akan sungguh menerima keselamatan. Sewaktu kita berdoa atau kita membaca dan merenungkan sabda Tuhan maka kita akan sungguh menerima keselamatan. Ketika seseorang mau menghargai waktu untuk lebih mengenal diri melalui pengalaman hidup dan mau memperbaiki sikap hidupnya maka ia akan mengalami kebahagiaan sebab ia akan lebih diterima oleh orang-orang disekitarnya. Ketika seseorang mau berbagi dan mengasihi maka ia akan mengalami sukacita dan damai sebab ia telah mampu mengasihi Tuhan melalui sesama yang membutuhkan. Demikianlah keselamatan akan kita terima ketika kita mau melakukan hal yang baik dan benar. Sebab hal yang baik dan benar berasal dari Tuhan.

Hari ini apakah aku sudah berdoa, membaca dan merenungkan sabda Tuhan? Adakah aku sudah mengasihi Tuhan dengan memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Selasa, 19 Maret 2013

"Yusuf, Suami Maria yang Tulus Hati"

"..... Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang didalam kandungannya adalah dari Roh Kudus." 
(Matius 1 : 20)



Rencana Tuhan sejak semula adalah baik, mengingikan kebaikan dan keselamatan melalui orang-orang pilihanNya. Kesediaan Yusuf adalah peristiwa penting yang membuat rencana itu terlaksana bagi kita. Kadang rencana Allah menjadi cita-cita yang tidak berbuah, bukan karena Allah tidak mau membuatnya, melainkan kita tidak mau bekerja sama denganNya.

Mewujudkan kesejateraan dan kebahagiaan banyak orang adalah cita-cita Allah. Seperti Yusuf, kia perlu dengan tulus mengasihi saudara-saudari kita yang menderita. Mewujudakan kesejahteraan dimulai dari uluran tangan kita yang tulus berbelarasa adalah kebaikan yang utama, melebihi semua cita-cita dan doa-doa kita akan orang lain. Kitalah Yusuf-Yusuf baru itu. Semoga hari ini terlaksana cita-cita Allah melalui kesediaan kita menangani kesulitan orang lain dengan pengorbanan kita.

Apa yang akan secara nyata kita putuskan untuk saudara-saudari yang kita tahu sedang mengalami kesulitan dan penderitaan? Dimanakah tempat ketulusan kita dibutuhkan saat ini?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Sabtu, 16 Maret 2013

"Pengen Menang Sendiri"

"Maka timbullah pertentangan diantara orang banyak karena Dia." 
(Yohanes 7 : 43)


Jika setiap orang mengikuti kebenarannya sendiri, yang ada hanyalah pertentangan demi pertentangan. Terlebih jika mereka menganggap bahwa kebenarannya sendirilah yang paling benar dan orang lain salah. Ada saja alasan yang dicari-cari untuk mempertahankan kebenarannya.

Yang menarik pula ketika orang bertahan dalam kebenarannya tetapi ada temannya yang mulai berpihak pada lawannya, ia bisa berkata seperti orang-orang Farisi, "Adakah kamu juga disesatkan?". Ternyata sungguh amat parah orang yang hidup didalam kebenarannya sendiri seperti orang-orang Yahudi dan Farisi. Mereka tidak lagi mendengarkan perkataan-perkataan Yesus, abai akan tanda-tanda yang dilakukanNya.

Sebagai orang yang beriman kepada Kebenaran Sejati, yaitu Yesus Kristus, kita pasti tidak ingin jatuh dalam situasi seperti orang-orang Farisi. Hidup dalam pembenaran-pembenaran diri bukan saja mengingkari Kebenaran Sejati tetapi juga mudah menyulut pertentangan diantara sesama. Semoga dengan menghayati tema APP tahun ini, kita semakin dijauhkan dari sikap yang demikian.

Apakah aku memiliki kecenderungan untuk bersikap "mau menang sendiri"? Dalam situasi apa hal itu mudah terlihat? Bagaimana caraku untuk semakin rendah hati dan membiarkan "Kebenaran Sejati" yang menguasai hidupku?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Jumat, 15 Maret 2013

"Lebih Bahagia Memberi"

Pada waktu bayi lahir ke dunia, katanya jika sehat, ia pasti menangis dengan keras, makin sehat bayi, makin keraslah tangisannya. Saat bayi menangis, ada orang yang memerhatikan bahwa tangannya selalu mengepal. Sepertinys ia menggenggam sesuatu dengan keras. Bentuk tangan ini berbeda dengan tangan orang yang meninggal dunia. Saat seorang meninggal dunia, tangannya terbuka, tidak menggenggam.

Sering disebutkan bahwa hal ini merupakan pertanda keegoisan manusia. Sejak lahir, manusia sudah berusaha mengambil atau menahan sesuatu dengan kuat dalam genggamannya, sepertinya ia tidak rela berbagi.

Akan tetapi, bukankah demikian adanya? Manusia pada dasarnya adalah egois, tidak mau memberi. Sekalipun ada kebenaran yang mengatakan, "Lebih berbahagia memberi daripada menerima", banyak orang tidak melakukannya.

Rockefeller adalah seorang yang menjalani bagian pertama hidupnya sebagai laki-laki yang tidak bahagia, ia sering sulit tidur. Ia merasa tidak ada orang yang menyayanginya. Ia harus dikelilingi oleh sejumlah pengawal pribadi.

Ketika usianya menginjak 53 tahun, ia didiagnosis menderita sejenis penyakit langka. Ia kehilangan semua rambutnya dan tubuhnya mengecil. Para ahli mengatakan hidupnya tinggal setahun.

Selama itu, Rockefeller mulai berfikir melewati batas-batas yang mengungkung hidupnya dan mencoba menemukan arti hidup. Ia memberikan sebagian besar uangnya kepada gereja dan kaum miskin, serta mendirikan Yayasan Rockefeller. Luar biasa. Hidupnya justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Kesehatannya membaik berlawanan dengan perkiraan dokter dan ia bisa hidup hingga berusia 98 tahun.

Riwayat hidup Rockefller mencontohkan transformasi yang terjadi saat seseorang menemukan rasa puas dalam memberi. Artinya, kebiasaan bersedekah telah mendatangkan kenikmatan atau kepuasan batin yang tidak dapat digantikan dengan apa pun.

Mengherankan, tetapi itulah kenyataannya, ada kuasa saat kita memberi. Jadi, jangan memberi hanya karena kita mampu. Teruslah memberi, apapun keadaan Anda dan jangan berhenti memberi. Memberilah dengan sukacita.


sumber : Andreas Nawawi. Momen Inspirasi. Yogyakarta : Penerbit ANDI 2012

"Bebas dan Dendam"

"Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh?" (Yohanes 7 : 25)


Bunuh-membunuh tampaknya menjadi warna yang kental dalam sejarah kehidupan manusia. Entah karena rasa dendam, entah karena perbedaan. Banyak alasan orang membunuh meskipun sesungguhnya tidak ada dan tidak boleh ada alasan apapun orang bisa menghilangkan nyawa orang lain.

Disadari atau tidak terkadang kehidupan orang beriman zaman kini pun tak luput dari rasa seperti orang-orang Yahudi. Dalam situasi itu, tepatlah jika kita merenungkan tema APP tahun ini, "Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbelarasa". Melalui tema ini kita hendak diingatkan kembali bahwa seorang yang makin beriman pasti memiliki hati yang bebas permusuhan. Bebas benci dan dendam. Bagi orang yang makin beriman, sesama yang menyenangkan maupun yang kerap mudah melukainya, adalah ciptaan Allah yang tetap perlu disayangi meskipun untuk itu tidak mudah. Orang yang makin beriman tak kan bergeming untuk tetap ingin bersaudara sekalipun sikap tulus tak dianggap positif. Semakin orang memilki rasa bersaudara, pastilah semakin bertumbuh dan berkembang sikap belarasa terhadap kebutuhan sesama.

Sejauh manakah imanku membebaskan aku dari rasa benci terhadap sesama yang suka melukaiku? Jika ada orang yang kubenci, maukah aku membangun persaudaraan dengan orang yang sering tidak aku pedulikan??


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Kamis, 14 Maret 2013

Kisah Nyata Beato paus Yohanes Paulus II dan Pengemis


Dalam Masa Prapaskah ini yang merupakan masa pertobatan, Gereja-gereja Katolik menyediakan jadwal khusus untuk penerimaan Sakramen Tobat dan mengajak umat-umat Katolik sekalian menggunakan momen tersebut untuk mengakukan dosanya. Berkenaan dengan Sakramen Tobat / Sakramen Pengakuan Dosa, ada sebuah cerita nyata menarik* dimana seorang Paus, Beato Yohanes Paulus II, mengakukan dosanya kepada seorang imam yang sekali waktu meninggalkan imamatnya dan menjadi pengemis.**

Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita dan meneguhkan kita untuk datang ke Gereja dan mengakukan dosa kita dalam Sakramen Tobat.

Mari bersama-sama kita simak:
Seorang imam teman Scott Hahn kembali dari Roma dan menceritakan kisah ini kepada Scott Hahn. Imam tersebut dalam perjalanan untuk audiensi pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II. Imam itu berangkat lebih awal dan kemudian memutuskan untuk berhenti sejenak dan berdoa di sebuah gereja sebelum pertemuan dengan Paus.

Beberapa langkah dari gereja tersebut terdapat sejumlah orang pengemis, hal yang cukup biasa di Roma. Ketika imam tersebut berjalan mendekati gereja, imam itu berpikir bahwa ia mengenali salah satu pengemis. Setelah masuk ke dalam gereja, imam itu berlutut berdoa sementara ia mengingat-ingat seorang pengemis yang familiar baginya. Setelah berdoa, imam tersebut segera keluar dan mendekati pengemis tersebut dan berkata: "Saya mengenal engkau. Bukankah kita pernah studi di seminari yang sama?"

Pengemis tersebut mengiyakan, "Iya, memang benar."

"Jadi engkau adalah imam sekarang?" Imam tersebut bertanya lagi.

"Tidak. Tidak lagi. Saya telah jatuh. Tinggalkan saya sendirian.", jawab pengemis tersebut.

Imam tersebut yang sadar ia harus bergegas untuk pertemuan dengan Paus hanya berkata, "Saya akan berdoa untuk engkau."

Imam itu lalu meninggalkan pengemis tersebut dan berangkat ke pertemuannya dengan Paus Yohanes Paulus II. Pertemuan dengan Paus ini adalah sangat formal. Ada beberapa orang yang dianugerahi kesempatan untuk menghadiri audiensi pribadi dengan Paus pada waktu yang sama dan ketika Bapa Suci berjalan ke arah anda, sekretarisnya akan memberikan rosario yang sudah terberkati kepadanya dan kemudian Ia (Bapa Suci) akan memberikan rosario itu kepada anda.

Pada saat tersebut, seseorang boleh mencium cincin Paus dan berkata sesuatu dengan rendah hati umumnya seperti memohon Paus mendoakannya, berterimakasih atas pelayanan Paus atau mendoakan Paus. Tetapi, ketika Bapa Suci Yohanes Paulus II mendekat, Imam tersebut tidak dapat menahan dirinya dan berkata,

"Saya mohon berdoalah untuk teman saya."

Tidak hanya itu, imam tersebut lalu menceritakan semuanya mengenai teman seminarinya yang menjadi pengemis tersebut. Bapa Suci dengan penuh perhatian meyakinkan imam tersebut bahwa ia akan mendoakan temannya itu.

Beberapa hari kemudian, imam tersebut menerima sebuah surat dari Vatikan. Dengan bahagia dan heran, imam tersebut membawa surat itu ke gereja di mana ia terakhir bertemu teman sekelasnya di seminari. Hanya sedikit pengemis yang tinggal dan ia bersyukur temannya termasuk di antara yang masih tinggal di gereja itu. Imam tersebut mendekati teman pengemisnya itu dan berkata,

"Saya telah bertemu Paus dan ia berkata bahwa ia akan mendoakan engkau juga."

Imam tersebut melanjutkan, "Lebih dari itu, Paus mengundang engkau dan saya ke kediaman pribadi Beliau untuk makan malam."

Pengemis itu berkata, "Mustahil. Lihatlah saya. Saya seorang yang kotor. Saya sudah lama sekali tidak mandi dan baju saya kotor."

Sadar bahwa Paus ingin bertemu dengan temannya itu, Imam tersebut berkata, "Saya tinggal di sebuah kamar hotel di seberang jalan. Di sana engkau dapat mandi dan bercukur. Saya akan mencarikan baju yang cocok untuk engkau."

Oleh karena rahmat Allah, pengemis tersebut setuju dan kemudian mereka berdua pergi berangkat untuk makan malam dengan Paus Yohanes Paulus II.

Keramahan Paus menakjubkan. Menjelang akhir makan malam sebelum menikmati makanan pencuci mulut, Paus melalui sekretarisnya meminta imam tersebut meninggalkan Paus sendirian bersama dengan pengemis tersebut.

Setelah 15 menit, pengemis tersebut keluar dari ruangan dengan air mata.

"Apa yang terjadi di sana?" tanya imam tersebut.

Jawaban tak terduga muncul: "Paus meminta saya mendengarkan pengakuan dosanya.", kata pengemis tersebut.

Pengemis itu melanjutkan, "Saya berkata kepadanya: `Yang Suci, lihatlah saya. Saya seorang pengemis. Saya bukan seorang imam.' Paus melihat saya dan berkata:

`Anakku, sekali engkau imam, engkau adalah selamanya imam dan siapa yang di antara kita yang bukan seorang pengemis? Saya juga datang ke hadapan Tuhan sebagai seorang pengemis meminta pengampunan atas seluruh dosa-dosa saya.'

Saya memberitahunya: 'Tetapi, saya tidak berada dalam persatuan dengan Gereja.'

Tetapi Paus meyakinkan saya: 'Saya seorang Paus, seorang Uskup Roma. Saya dapat mengembalikan engkau sekarang juga.'"

Pengemis itu melanjutkan bahwa ia telah lama tidak mendengarkan pengakuan dosa sehingga Paus harus membantunya untuk mengucapkan kata-kata absolusi.

Imam itu bertanya, "Tetapi engkau di dalam selama 15 menit. Tentu pengakuan dosa Paus tidak berlangsung selama itu."

"Tidak", jawab pengemis itu, "Tetapi setelah saya mendengarkan pengakuan dosanya, saya meminta ia mendengarkan pengakuan dosa saya."

Kata-kata penutup dari Paus Yohanes Paulus II untuk anaknya yang hilang datang dalam bentuk form dari sebuah komisi. Bapa Suci memberikan tugas pertama kepada imam-pengemis tersebut untuk pergi dan melayani orang-orang tunawisma dan pengemis di gereja tempat imam itu dulu mengemis.

Apa yang bisa kita lihat adalah teladan yang agung dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Ia adalah seorang yang mampu melihat tidak hanya pribadi Yesus Kristus, tetapi juga Imamat Kristus dalam mata seorang pengemis yang adalah imam.

Tidak hanya itu, Bapa Suci berlutut di hadapan pengemis dalam kerendahan hati dengan penuh kesadaran akan dosanya.

Perlu diketahui bahwa Paus Yohanes Paulus II pergi mengaku dosa setiap minggu.*** Bila kita mengikuti teladan Paus ini, entah berapa banyak dari kita akan menjadi orang kudus.


sumber : "Vero Teofilia" <Vero@indopoly.co.id>