Selasa, 02 Oktober 2012

"Siapakah yang Terbesar?"

Santo bukanlah orang miskin. Walaupun sederhana, ia punya rumah dengan perabotan yang lengkap. Ia adalah tukang kebuh di sebuah yayasan. Orang-orang heran, darimana semua perabotan itu? Begini triknya, jika bertemu dengan orang-orang yang kaya dilingkungannya ia akan bersikap sangat ramah, penuh pujian dan sanjungan terhadap orang itu.

Yang pasti ia akan bersikap seolah-olah dirinya adalah seorang yang lemah, miskin dan malang di dunia ini. Sikap dan kata-katanya yang memelas, akan menyentuh perasaan kasihan si orang kaya. Bantuan-bantuan mengalir kepadanya. Jika Santo bertemu dengan orang-orang biasa seperti dirinya, ia akan memamerkan rumah dan perabotannya. Ia menyanjung-nyanjung orang-orang kaya yang telah bermurah hati kepadanya itu. Tetapi jarang atau tepatnya tidak pernah, ia bermurah hati kepada teman-temannya sebagaimana orang kaya bermurah hati kepadanya.

Maka, yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang selalu mengandalkan Tuhan dan solider dengan sesamanya. Terutama dalam memperingati Hari Pangan Sedunia di Bulan Oktober ini, kita diingat kan untuk solider terhadap mereka yang berkekurangan dan kesulitan dalam mencari sesuap nasi.

sumber : Renungan Harian Bulan Rosario dalam konteks Hari Pangan Sedunia 2012. Konsorsium Pengembangan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi KAJ

Minggu, 23 September 2012

Happy Birthday Romo Aji...


Selasa, 11 September 2012, suasana Pastoran Gereja St. Arnodus yang biasanya sepi berubah ramai, ketika Romo-romo SVD dari dekenat Bekasi dan Jakarta satu persatu berdatangan untuk merayakan hari ulang tahun Romo Aji, SVD yang ke 48 tahun.
Ada yang belum kenal kah dengan Romo kita yang satu ini? Yuk kita kenalan. Nama lengkapnya adalah Romo Stefanus Setyo Kumoro Aji, SVD, biasa dipanggil Romo Aji atau Pater Stefano (waktu beliau ditugaskan di Brasil). Beliau lahir di Jakarta, 11 September 1964. Kaul pertama, 18 Juli 1987. Kaul Kekal 18 Juli 1992. Tahbisan Diakon, 17 Februari 1993. Tahbisan Imamat, 15 Agustus 1993 oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ.
Berikut pengalaman pastoral Romo Aji, SVD :
-          1990 s/d 1991 sebagai frater berpastoral di Paroki Meliau, Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat.
-          1994 s/d 1998 menjadi pastor rekan di Paroki “Santa Maria de Fatima” Matto Grosso, provinsi Brasil Selatan. Pada masa itu Romo Aji, SVD pernah bekerja di dua paroki di kota/keuskupan lain, masing-masing selama 3 bulan untuk menggantikan kekosongan pastor paroki yang sedang berlibur ke negaranya.
-          1999 s/d 2001 menjadi formator di provinsi Brasil Selatan.
-          2002 s/d 2004 akhir menjadi formator di provinsi Brasil Central (Sao Paulo). Selama menjadi formator di provinsi Brasil Central, mengambil studi Misiologi gelar MA (Master of Art) di Pontificia Faculdade De Teologia Nossa Senhora Da Assuncao, dikota Sao Paulo, Brasil.
-          2005 s/d 2011 menjadi formator di Seminari Tinggi SVD, Malang, Jawa Timur.
Pada hari ulang tahunnya yang ke 48, beliau bercerita pada 11 September 2001 beliau merayakan ulang tahun ditengah keprihatinan. Dimana saat itu terjadi tragedi serangan bom ke menara kembar WTC di Amerika, saat itu beliau sedang bertugas di Brasil, salah satu negara bagian Amerika Latin. Namun dihari ulang tahunnya yang ke 48 ini, Romo Aji, SVD merasa gembira karena beliau sekarang bisa bertugas di paroki dimana dulu tempat beliau di tahbiskan yaitu di paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi ini.
Banyak doa dan ucapan yang disampaikan oleh Romo-romo rekan, Dewan Paroki dan seluruh umat untuk Romo Aji, SVD baik secara langsung maupun lewat jejaring sosial seperti facebook. Sampai Romo Agus, SVD yang kini tengah studi di Manila pun mengucapkan selamat dan doanya untuk Romo Aji, SVD.
Selamat ulang tahun Romo Aji, SVD, semoga Tuhan Yesus Kristus selalu memberkati dan menyertai Romo dalam tugas dan karya pelayanan Romo. Tetap setia dalam panggilan imamatNya dan tiada lelah dalam membimbing domba-dombaNya agar tidak ada domba yang tersesat.

Jumat, 21 September 2012

"Belas Kasihan"

"Yang kuhendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Deni dan Ari adalah teman yang sangat dekat. Mereka berdua berkenalan ketika masuk SMP. Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Deni dikenal sebagai anak yang pendiam di sekolahnya. Teman-teman yang lain menganggap dia aneh karena sifatnya yang pendiam dan menyendiri. Mereka juga menjauhi dia. Sedangkan Ari adalah anak yang sangat periang dan memiliki banyak teman. Banyak teman mereka yang bingung dan bertanya-tanya,

"Mengapa Ari mau berteman dengan Deni yang aneh itu?.

Tetapi Ari menjawab mereka semua bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan oranng dan orang seperti Deni lah yang harus kita kasihi dan dekati.

Diadalm kehidupanNya, Yesus lebih banyak berteman dengan orang-orang yang terkucilkan. Ia bahkan menjadikan Matius sang pemungut cukai menjadi muridNya yang oleh orang Yahudi dan kaum Farisi dianggap bahwa para pemungut cukai merupakan teman dari penjajah dan memeras uang dari orang Yahudi. Tetapi Yesus malah merangkul mereka dan mau makan bersama-sama mereka. Yesus menjawab cemoohan orang-orang bahwa Ia datang untuk orang berdosa bukan orang yang benar.

Siapakah yang akan kita ikuti, Ari yang menjadi teman Deni yang dijauhi oleh teman-temannya atau seperti teman-teman yang lain yang menjauhi Deni?

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Iman BKSN 2012. Komisi KKS dan Komisi Kateketik KAJ

Kamis, 20 September 2012

"Mengampuni"

"Sebab itu Aku berkata kepadamu : dosanya yang banyak telah diampuni, sebab ia telah berbuat kasih. Tetapi orang sedikit mengampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Suatu hari Rina sedang bermain dengan teman-temannya didalam kelas saat istirahat. Didalam kelas pun ada Mirna yang sedang makan dari bekal mamanya. Karena Rina dan teman-temannya asik bercanda dan bermain tanpa sadar ia menyenggol bekal makanan Mirna sehingga makanannya pun tumpah ke lantai. Mirna tampak murung melihat makanannya tumpah ke lantai karena hanya itu makanan yang ia punya. Rina yang sadar akan hal yang ia lakukan pun tersontak kaget dan merasa takut Mirna marah kepadanya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan karena makanan Mirna tumpah semua ke lantai. Rina pun meminta maaf kepada Mirna karena tindakannya yang tidak sengaja. Tetapi Mirna kemudian kembali tersenyum dan berkata bahwa ia memaafkan Rina dan teman-temannya itu.

Apakah kita dapat meniru sikap Mirna yang mau memaafkan teman kita yang telah berbuat salah kepada kita? Sama seperti Tuhan Yesus yang mau memaafkan dosa-dosa kita.

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Iman 2012. Komisi KKS dan Komisi Kateketik KAJ

Selasa, 18 September 2012

"Kebersamaan"

"Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota."

Anto adalah salah satu pegawai yang cukup sibuk yang bekerja di perusahaan swasta terkemuka, sehingga seringkali ia pulang kerja hingga larut malam. Suatu ketika Anto pulang kerja, ternyata Budi (anaknya) membukakan pintu untuknya, dan sepertinya Budi memang sengaja menunggu ayahnya tiba di rumah, Budi bertanya,

"Berapa sih gaji ayah?"

"Lho kok kamu nanya gaji ayah sih?"

"Nggak, Budi cuma mau tahu aja ayah..." timpal Budi

Ayahnya pun menjawab,

"Kamu hitung sendiri, setiap hari ayah berkerja 10 jam dan dibayar Rp. 400.000."

Kemudian Budi menjawabnya,

"Kalo 1 hari ayah dibayar Rp. 400.000 untuk 10 jam, berarti 1 jam ayah digaji Rp. 40.000 dong?"

"Pinter anak ayah, sekarang kamu cuci kaki dan tidur ya." Jawab ayahnya.

Tetapi, Budi tidak juga beranjak. Sambil memperhatikan ayahnya ganti pakaian, Budi kembali bertanya,

"Ayah, boleh pinjam uang Rp. 5.000 nggak?"

"Sudah, buat apa malam-malam begini?" Jawab ayahnya.

Anak kecil itupun langsung berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Anto melihat ternyata Budi sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000 di tangannya. Budi berkata kepadanya,

"Aku mau mengajak ayah main ular tangga. Cuma 30 menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ternyata cuma ada Rp. 15.000 tapi, karena ayah bilang ayah tiap 1 jam ayah digaji Rp. 40.000, jadi setengah jamnya ayah digaji Rp. 20.000. Uang tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam uang ayah Rp. 5.000." Jawab Budi dengan polos.

Sering kali kita kurang punya waktu untuk berkumpul karena sibuk dengan urusan sendiri, hingga kadang-kadang kita lupa terhadap sesuatu hal, atau orang-orang yang membutuhkan keberadaaan kita ditengah-tengah mereka.



sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Kitab Suci 2012. Komisi Kerasulan Kitab Suci & Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta.

Senin, 17 September 2012

"Kepercayaan"

Suatu ketika seorang gadis bersama dengan ayahnya melintasi jembatan tua yang tidak terawat baik. Jembatan itu penuh dengan lubang menganga dan talinya pun terlihat ada yang putus. Pertanda kalau kurang diperhatikan oleh empunya. Tampak suasana takut dan cemas di raut muka sang ayah dan gadis kecil ketika hendak menyeberanginya. Sambil berbicara pelan kepada putri yang ia cintainya.

"Sayang, tolong pegang tangan ayah kuat-kuat agar kamu tidak jatuh ke dalam sungai."

Mendengar permintaan ayahnya, si gadis kecil berkata sedikit keras,

"Tidak ayah! Ayah yang harus pegang tanganku."

"Apa bedanya?" tanya laki-laki itu sedikit bingung.

"Ada perbedaan besar, yah," balas si gadis kecil.

"Jika aku memegang tangan ayah dan sesuatu terjadi padaku, kemungkinan aku akan membiarkan tangan ayah lepas dariku. Tetapi jika ayah memegang tanganku, aku yakin apapun yang terjadi, ayah tidak akan pernah membiarkan tangaku terlepas," jelasnya.

Gadis kecil ini menyandarkan keselamatan jiwanya kepada ayahnya. Ia yakin dan percaya betul bahwa ayahnya akan menyelamatkannya walaupun rintangan berat menghadang.

sumber : Renungan Harian dan Pendalaman Kitab Suci 2012. Komisi Kerasulan Kitab Suci & Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta.

Sabtu, 15 September 2012

"Cari Nama"

Donita membenamkan wajah ke bantal.

"Orang lain dapat nama, padahal Donita yang bekerja keras di acara sekolah," ujarnya dongkol.

Seekor katak menjalani lebih dari separuh usia hidupnya di sebuah kolam kecil. Terbersit hasrat melihat keindahan dunia. Setelah perjalanan jauh, langkahnya terhenti di tepi danau.

Donita membalikkan badannya.

Ia melihat dua ekor burung bangau yang sedang istirahat di tepi danau.

"Apakah kalian dapat membantuku menyeberangi danau ini?"

"Kami dengan senang hati membantu. Tetapi bagaimana caranya?"

"Aha. Kalian memegang ujung dahan dengan mulut. Aku akan berpegangan dengan mulutku ditengah-tengah dahan untuk keseimbangan."

Kedua burung bangau itu terbang membawa katak melintasi danau.

Mata Donita berbinar-binar.

Seorang nelayan mencari ikan bersama rekannya berkomentar,

"Betapa cerdas kedua burung bangau itu."

Telinga katak seketika menjadi panas. Ia menyahut percakapan nelayan.

"Aku pencetus idenya. Aku yang mestinya dapat nama." Mulut katak terbuka. Tubuhnya terjerembab jatuh ke danau.

Untuk hal-hal tertentu, lebih baik kita tidak mendapat nama. Ketenaran itu menyenangkan, namun dapat menjadi dosa dalam arti harfiah dan kiasan dan dapat menjadi bumerang. Sebagian ketenaran kita mungkin lebih baik lepas tangan, kecuali kita kesulitan mengelakkannya.

sumber : Mutiara Andalas, SJ. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009