Selasa, 26 Februari 2013

"Membina Kepribadian yang Baik"

"Mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya." 
(Matius 23 : 3)

Dalam keluarga cukup banyak ayah atau ibu memberikan banyak nasihat moralitas kepada anaknya. Sayang sekali, pembinaan moralitas dalam keluarga tidak didukung oleh situasi lingkungan masyarakat.

Di media massa, anak melihat dan membaca banyak pemimpin berwaca indah tentang kejujuran, namun kemudian terjebak dalam kasus korupsi. Dimana-mana anak mendengar kotbah tentang Tuhan dan hukum-hukum agama, tetapi kekerasan masih sering terjadi terhadap sesama anak bangsa. Memang mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya.

Dewasa ini banyak anak Indonesia merindukan pemimpin keluarga dan pemimpin masyarakat yang memberi contoh perbuatan baik. Mereka muak dengan citra dan wacana. Bagi anak-anak, "verba docent, exempla trahunt", kata-kata hanya mengajarkan, tetapi contoh teladan memiliki daya pikat. Cinta kepada sesama, terlebih kaum miskikn, tidak bisa hanya dengan wacana tetapi harus dalam perbuatan nyata, "love is service in action".

Apa saja tugas-tugas yang Anda berikan kepada anak Anda dalam rangka pembinaan moralitas? Bagaimana cara terbaik mempersiapkan pemimpin masyarakat masa depan?

sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Senin, 25 Februari 2013

"Menjadi Manusiawi, Bukan Memiliki"

"Berilah maka kamu akan diberi." (Lukas 6 : 38)


Orang dinilai sebagai berhasil kalau memiliki jutaan dollar, walaupun dengan cara korupsi atau tidak membayar pajak secara benar dan seharusnya. Dalam diri manusia terdapat satu potensi lagi, yaitu keinginan untuk menjadi manusiawi. Untuk menjadi semakin manusiawi orang harus berani mengosongkan diri dan tidak terikat pada barang material. Perlulah disadari, kemewahan sama buruknya dengan kemiskinan. Maka untuk semakin menjadi manusiawi kita harus bersedia memberikan atau membantu orang lain.

Kita membantu orang lemah, miskin, kecil, tertindas dan cacat, tidak saja untuk meringankan penderitaan mereka, akan tetapi dengan perbuatan itu kita semakin manusiawi. "Manusia menjadi semakin bernilai karena kenyataan dirinya sendiri daripada karena apa yang dimilikinya. Begitu pula segala sesuatu yang diperbuat orang untuk memperoleh keadilan yang penuh persaudaraan yang lebih luas, tata cara yang lebih manusiawi dalm hubungan-hubungan sosial, lebih berharga daripada kemajuan-kemajuan dibidang teknologi." (GS, 35)

Manakah kebahagiaan yang lebih anda rasakan ketika membeli barang mewah atau ketika anda membantu orang kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel?

sumber ; Ret-ret Agung Umat 2013

Sabtu, 23 Februari 2013

"Menjadikan Musuh Sebagai Sahabat"

"Tetapi Aku berkata kepdamu : kasihanilah musuhmu dan berdoalah bgi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5 : 44)


Bagaimana Yesus menyikapi perbedaan? Tuhan Yesus adalah telada yang luar biasa. Ia mampu melihat perbedaan menjadi sesuatu yang tidak harus dibenci, dimusuhi tetapi dikasihi, diberkati serta didoakan.

Yesus tidak mau pengikut-pengikutNya terjebak dalam menyikapi perbedaan adat kebiasaan dan agama dengan bersikap menutup diri bahkan dijadikan musuh yang harus dilumat dan dibunuh. Yesus mengajak kita para muridNya untuk berbela rasa dan murah hati terhadap mereka yang berbeda dari kita, bahkan menjadi musuh kita. Saatnya kita untuk bekerjasama dan bersaudara dengan orang lain, meskipun orang lain tidak se-ide dengan kita sekalipun. Kalau kita hidup damai dan bahagia, berhentilah memandang orang lain yang berbeda adat kebiasaan dan agama sebagai musuh.

Mampukah aku melihat perbedaan menjadi sesuatu yang tidak harus dibenci, dimusuhi tetapi dikasihi dan didoakan? Atau aku bersikap sebaliknya, memusuhi, menyerang, menganiaya, mengintimidasi bahkan membunuh?

sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Jumat, 22 Februari 2013

"Kunci Surga"

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga." (Matius 16 : 19a)

Yesus adalah seorang guru, pemimpin dan penguasan Kerajaan Surga. Namun Dia bukanlah pemimpin dan penguasa yang mengagungkan jabatan, tetapi Dia seorang gembala yang rendah hati, yang bersedia merendahkab sampai serendah-rendahnya sejak kehadirannya secara nyata di dunia.

Dia adalah Bapa yang selalu menawarkan tanganNya untuk memeluk, menguatkan. Memberikan telingNya untuk mendengarkan dan hatiNya untuk mengerti dan memahami anak-anakNya, tanpa menghakimi tanpa menyalahkan. Kita semua tahu dan mengenal siapa itu Simon Petrus, murid Tuhan. Tapi, Tuhan jauh lebih tahu. Sehingga ia tidak ragu ketika menyerahkan dan mempercayakan kunci Kerjaan Surga, mempercayakan umatNya, domba-dombaNya untuk digembalakan olehnya.

Tahta ini juga mengartikan kepemimpinan dan kuasa menggembalakan dan melayani bukan mengagungkan jabatan atau kedudukan seorang pemimpin Gereja Katolik. Semangatnya adalah "Gembalakan kawanana domba Allah yang ada padamu, jangan dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri... hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu." (1 Petrus 5 : 2 - 3)

Pesta ini juga mengajak seluruh umat untuk setia dan taat kepada Kristus sebagai pemimpin agung dan kepada para pemimpin serta ajaran-ajaran gereja. Dengan demikian kita boleh berharap kelak kita akan diperkenankan untuk memasuki Kerajaan Surga.


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Kamis, 21 Februari 2013

"Kemurahan Hati Tuhan"

"Mintalah maka kamu akan diberi, carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7 : 7).


Di zaman sekarang ini kerapkali sulit mencari orang yang sungguh-sungguh bermurah hati dan tulus dalam kehidupan. Tak sedikit dari kita mungkin juga mau menolong tetapi kerapkali berfikir dua atau tiga kali demi keuntungan diri sendiri dan bukan dengan ketulusan.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita merenungkan dan menyadari bahwa dalam hidup ini juga harusnya dalam memberi, mengasihi dan menolong haruslah dengan ketulusan dan secara total, seperti yang digambarkan dalam bacaan hari ini.

Gambaran Bapa yang murah hati itu sangat jelas mengajak kita juga untuk bisa bersikap murah hati dalam hidup ini. Ketika kita berdoa sungguh pada Tuhan dan dikabulkan, ketika kita berserah pada Tuhan atas berbagai permasalahan kita dan beberapa hari kemudian permasalahan kita terjawab dan terselesaikan, maka disitulah letak kemurahan hati Allah yang menjawab berbagai macam doa, yang membantu menyelesaikan berbagai permasalahan hidup secara total dan penuh kemurahan hati serta kasih. Mari kita juga hari ini setidaknya dapat bermurah hati seperti Bapa murah hati, mari kita berani memberi dan mengulurkan tangan kita hari ini demi sesama kita yang membutuhkan.

Apakah kita lebih sering menghitung-hitung untung dan rugi dalam pelayanan kita, atau kita juga lebih sering memiliki motivasi-motivasi tertentu dalam pelayanan demi keuntungan diri sendiri?


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Selasa, 19 Februari 2013

"Bagi Orang Beriman Mengampuni adalah Wajib"

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahamu." (Matius 6 : 14 - 15)

Hari ini Tuhan Yesus, yang menyelamatkan dengan mengampuni dosa-dosa kita, mengingatkan satu hal pokok dalam hidup kristiani, yaitu mau mengampuni. Pengampunan menjadi awal dan dasar hidup baru, relasi baru, kerajaan baru dan dunia baru didalam kasih Allah, yang selama ini hilang karena dosa.

Allah Bapa kita mengetahui bagaimana manusia hidup menderita karena dosa. Maka karena kasihNya Bapa berbela rasa dan merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan manusia. Apa itu? Mengampuni. Dan pengampunan itu terjadi dalam darah Putra TunggalNya.

Dengan demikian pengampunan tidak mungkin terjadi tanpa pengorbanan. Maka sebagai murid Yesus, tidak ada pilihan lain. Kita harus mengikuti ajaran dan teladanNya, yaitu mau mengampuni, yang berarti juga mau berkorban. Mengapa? Karena mengampuni itu tidak mudah, ada perasaan berat seakan-akan terpaksa. Maka orang mengatakan bahwa mengampuni itu harus tulus, ikhlas, berjiwa besar dan legowo.

Masa prapaskah ini adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat, untuk lebih dekat mengikuti Yesus dengan berbuat seperti Dia, yaitu peduli dan berbela rasa terhadap saudara-saudara yang membutuhkan maaf, pengampunan, perhatian dan bantuan.

Apakah saat ini masih ada orang yang belum saya maafkan, masih dongkol dan dendam dengannya? Nah sekarang saat yang tepat untuk meneladan Guru dan Penyelamat kita Yesus Kristus yaitu mengampuninya secara tulus.


sumber : Ret-ret Agung Umat 2013

Senin, 18 Februari 2013

"Harta Bukan Jaminan Kesehatan Jiwa"

Apakah harta yang banyak dapat membuahkan senyum gembira atau tawa bahagia?

Jawabannnya pastilah "tidak". Apakah harta yang banyak dapat memberikan ketenangan dalam hati dan kedamaian dalam batin? Jawabannya juga pasti "tidak".

Dapatkah harta yang banyak memberikan jaminan ketenangan bagi masa depan dan kesejahteraan bagi hari esok? Jawabannya juga pasti "tidak".

Banyak orang yang memiliki harta, tetapi wajahnya selalu berkerut, hatinya resah dan khawatir menganai masa depan. Harta yang melimpah itu bersifat sementara, jika kita memilikinya, itu hanyalah titipan, janganlah kita menjadi sombong! Jika kita kehilangan, tidak ada yang kurang dari diri kita karena semua harta itu memang bukan milik kita. Semua itu adalah milik Sang Khalik yang mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.

Ketenangan hati dan jiwa kita bukan terletak pada harta. Hati dan jiwa kita tenang hanya ketika kita mampu menjaga relasi kita dengan Sang Khalik sebagai pemberi semua karunia serta kebersamaan kita dengan sesama. Relasi dengan Sang Khalik kita sebut ibadah, sedangkan relasi dengan sesama kita sebut persahabatan. Jalanilah semuanya dan nikmatilah keindahannya.


sumber : Imanuel Kristo. Momen Inspirasi 3. Yogyakarta : Penerbit ANDI. 2012