Sabtu, 28 April 2012

"Minta"

Seorang pria bernama Jones meninggal dunia dan dibawa oleh Petrus masuk ke surga. Dia senang sekali melihat berbagai keindahan yang tidak pernah dia lihat di bumi. Keindahan itu sungguh tidak terbayangkan dan tidak tergambarkan. Namun diantara banyak hal yang indah - indah, dia heran karena melihat ada sebuah bangunan besar yang mirip dengan  hanggar pesawat terbang.

"Bangunan apa itu?" tanyanya kepada Petrus.

"Engkau pasti tidak ingin tahu," ujar Petrus.

"Justru aku sangat ingin tahu," ujar Jones.

Karena mendesak, Petrus mengajaknya masuk ke gudang mahabesar itu. Didalamnya berderet kotak - kotak putih besar dengan pita merah. Dimasing - masing kotak ada namanya.

"Apakah nama saya ada disana?" tanya Jones.

"Tentu saja!" jawab Petrus.

Jones segera menyelusuri selasar gudang yang sangat besar itu dan sampai kepada rak dengan tulisan Jones. Akhirnya ia menemukan kotaknya. Saat ia membukanya, ia menarik nafas panjang. Ada nada penyesalan didalam tarikan nafasnya.

"Sudah saya duga", kata Petrus, "Setiap orang yang membuka kotaknya pasti akan bereaksi sepertimu".

Ternyata dikotak itu berisi semua hal yang dulu sangat dia harapkan bisa dia miliki saat berada di bumi. Dia tidak mendapakannya karena tidak memintanya kepada Tuhan.

Seringkali kita segan bahkan malu untuk meminta karena kita meraasa diri kita bukan peminta - minta. Padahal, firman Tuhan katakan, "Oleh karena itu Aku berkata kepadamu : Mintalah, maka akan diberikan padamu, carilah maka kamu akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu". Kasih itu berani mengharapkan segala sesuatu. Asal segala sesuatu itu sesuai dengan kehendak Tuhan, harapan kita akan terkabul. Ayo meminta!

sumber : Xavier Quentin Pranata. Kisah Inspirasional Plus. Yogyakarta : Moriel Publishing House 2010

Jumat, 27 April 2012

"Burung Gereja yang Mati"

Saya sedang meluncur di jalan raya dengan kecepatan kira - kira 100 KM/Jam ketika tiba - tiba didepan saya terlihat dua urung gereja sedang bertarung sengit di tepi jalan. Bulu - bulu mereka sudah rontok hingga beterbangan tetapi mereka masih saling menyerang dengan dahsyat.

Ketika mobil saya semakin mendekat, mereka terlihat semakin seru bertarung. Tiba - tiba mereka terbang bersama - sama dan mengepakkan sayap membabi buta mengarah ke mobil saya. Lalu dengan suara keras mereka membentur kaca mobil dan mati meninggalkan lumuran darah dan bulu. Mereka begitu bersemangat bertarung sehingga tidak melihat bahaya yang lebih besar didepan mereka.

Betapa sering kita bersikap seperti dua burunng itu, kita lupa bahwa suatu perkelahian tidak ada yang menang. Ketika menyimpan dendam, kemarahan kita meledak - ledak. Petiklah pelajaran dari kedua burung gereja itu. Lupakan keluhan anda, bersiaplah mengampuni dan mengakui bila diri anda memang bersalah. Mengumbar amarah kepada orang lain hanya akan menyakiti diri sendiri.

sumber : santapan rohani edisi tahunan VIII

Kamis, 26 April 2012

"Doa Egois"

Sebuah kapal mengalami kecelakaan, sehingga penumpangnya terjun ke laut. Ada 2 penumpang yang berhasil mendapatkan potongan kayu. Setelah terombang-ambing sekian lama mereka terdampar di sebuah pulau terkecil. Karena mereka sama - sama berdoa. Untuk menguji doa siapakah yang Tuhan jawab, mereka membuat garis ditengah pulau yang memisahkan pulau itu menjadi dua bagian.

Mereka mulai berdoa minta makanan. Tidal lama kemudian, tanah di bagian si A, sebut saja kemudian, tiba - tiba tumbuh pohon buah - buahan yang berbuah dengan lebatnya, sedangkan pulau di bagian si B tidak mengeluarkan apa - apa. Mereka berdoa lagi minta istri. Tidak lama kemudian ada kapal karam dan satu - satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berhasil mendarat di pulau si A, sedangkan si B tidak mendapatkan apa - apa. Lalu mereka berdoa meminta lagi minta perahu. Eh, ada perahu yang terdapat dibagian si A, sedangkan si B tidak mendapatkan apa - apa. Dengan segera si A mengajak istrinya dan bersiap - siap meninggalkan pulau itu tanpa mengajak si B. Tiba - tiba dia mendengar suara menggelegar dari atas, "Hai kamu yang egois, mengapa kamu tidak mengajak temanmu?" Dengan persaan kaget, si A menjawab, "Tuhan, bukankah doanya tidak pernah Engkau jawab. Dia pasti orang berdosa. Mengapa aku harus menyelamatkan orang yang Engkau sendiri tidak berkati?" Seketika guntur menggelegar disertai tiupan angin kencang dan terdengarlah suara dari atas, "Hai kamu yang bebal. Kamu tidak tahu, kamu mendapatkan segala sesuatu itu karena doa temanmu itu. Dia berdoa agar semua permintaanmu Aku turuti!".

Seberapa sering kita bertindak seperti si A yang egois dan mementingkan diri sendiri? Kisah kita mungkin tidak sedramatis itu, tetapi tidakkah kita menyadari bahwa terkadang dalam hal-hal kecil saja kita sudah egois. Mari kita berubah bersama!"

sumber : Xavier Quentin Pranata. Kisah Inspirasional Plus. Yogyakarta : Moriel Publishing House 2010

Selasa, 24 April 2012

"Bersyukurlah!"

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.
Seandainya sudah, apalagi yanng harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu.
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah untuk masa - masa sulit.
Dimasa itulah kamu tumbuh.

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu.
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru.
Karena itu akan mengajarkan kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat.
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih.
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.
Mulailah semua rasa syukur ini dari rumahmu masing - masing.


sumber : Jost Kokoh, Pr. XXX Family Way. Yogyakarta : Kanisius 2010

Senin, 23 April 2012

"Pengantar Kue"

Hari minggu orang tua mengajak saya mengunjungi tetangga yang menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kita hendak membawa apa untuknya?" tanya ibu pada ayah.

"Bagaimana kalau kita membelikan kue kesukaannya?" usul ayah.

Ibu meminta ayah berhenti di sebuah toko roti.

"Tersisa ukuran terkecil," kata pemilik toko.

"Kue ini kesukaannya," ujar ibu.

Setelah berunding sejenak, orang tua memutuskan tetap membeli kue kecil itu.

"Kamu nanti menyerahkan kuenya kepada nenek yang sakit ya," pinta orang tua kepada saya.

Begitu tiba di kamar tidur pasien, tangan ibu menyikut pelan lengan ayah.

Saya menaruh kue di sisi kue lain  diatas meja. Kedua kue sama hanya ukurannya jauh berbeda.

Nenek menangkap kekikukan orang tua saya.

"Terima kasih kaliah meluangkan waktu mengunjungi saya."

"Kami mencari kue kesukaan nenek namun hanya tersisa ukuran kecil," ujar ibu mencoba menerangkan perkaranya.

Nenek membalasnya dengan senyum.

"Kue kalian istimewa karena nenek dapat merasakan kehangatan tangan kalian. Kue besar terasa dingin karena ketidakhadiran tangan pengirimnya. Kuenya sampai melalui jasa antar toko roti."

Kecil namun berarti. Dibalik arti kecil, terdapat sebuah pengertian dan perhatian yang amat besar.


sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009

Sabtu, 21 April 2012

"KebaikanNya"

Pada suatu sabtu, hidup saya yaris mengalami bencana. Saat itu kakak dan keponakan saya mampir untuk mengambil sebuah meja. Setelah mengangkat meja itu ke truk, mereka bercakap-cakap sebentar dengan saya lalu pergi. Saya pun masuk ke rumah, sementara suami saya, Jay, memasukkan mobilnya ke garasi. Sesaat kemudian saya mendengar dentuman keras sehingga saya segera berlari menuju garasi. Jay sedang menatap pintu garasi yang tiba-tiba menutup sendiri. Seandainyta pegas pintu garasi itu patah beberapa menit lebih awal, seseorang pasti akan tertimpa pintu garasi yang beratnya hampir 100 kg itu dan akan terluka parah atau bahkan meninggal. Peristiwa tersebut bukan semata-mata suatu keberuntungan atau kebetulan sehingga tak seorang pun terluka. Tangan Allah lah yang menolong, satu lagi pengingat tentang kebaikanNya.

Terkadang saya rindu melihat peristiwa dramatis yang menunjukkan kebesaran dan kuasa Allah sebagai bukti bahwa Dia menyertai saya. Namun, Dia ingin supaya saya juga memperhatikan peristiwa-peristiwa kecil yang juga merupakan bukti dari kebaikanNya dan belas kasihanNya seperti yang dilakukanNya di garasi saya hari sabtu itu.

Jika anda tahu Allah bekerja dalam segala sesuatu, anda bisa menyerahkan segala sesuatu kepadaNya.

sumber : Santapan Rohani edisi Tahunan VIII

Rabu, 18 April 2012

"Letak Titik"

Suara ketukan pada lantai kayu kelas mengangkat muka Fajar. Ia mengerling jarum jam tangannya. Kelas baru akan mulai setengah jam lagi.

"Apakah saya mengganggu persiapan kelas Bapak?"

"Bagaimana kabar Anne pagi ini?"

"Sedih. Bapak penyebabnya," ujar Anne sambil mengerutkan mulutnya.

Anne menyerahkan kertas ujian matematikanya.

"Saya rasa Bapak salah memberi nilai," ujar Anne.

"Begitu?"

"Ya"

Fajar mengenakan kacamata untuk mengoreksi ulang pekerjaan muridnya.

"Bapak mestinya memberi nilai saya 10. Saya mengerjakan soal matematika nyaris sempurna. Saya hanya membuat kesalahan kecil pada akhir," bela Anne.

"Apakah nilai 9 bukan angka yang sangat bagus untuk jawaban akhir ujian yang keliru?"

Senyum Anne mengembang.

"Guru lain barangkali akan memberi nilai 0", ujar Anne sambil memilin rambutnya.

"Hasil akhir ujian seharusnya Rp. 2.000. Karena teledor, saya menulis jawaban Rp. 20.00," aku Anne

"Titik barangkali tanda kecil dalam ruang kelas matematika. Namun ia menjadi perkara besar ketika kita salah meletakkannya dalam perhitungan kehidupan."

Titik mengingatkan kita saat salah mengambil jalan, untuk sesegera mungkin berhenti dan mulai jalan yang baru.

sumber : Mutiara Andalas, S.J. Just For You. Yogyakarta : Kanisius 2009